INDOPOSCO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti tingginya angka perundungan atau bullying yang tercatat dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.
Kepala Bidang (Kabid) Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan, sebanyak 24 persen murid Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang berada di level 20 persen.
“Ini menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi,” kata Iman dalam keterangan, Rabu (9/9/2026).
Menurut dia, Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dinas pendidikan, dan satuan pendidikan harus membangun sistem sekolah maupun madrasah yang aman dari berbagai bentuk kekerasan.
Ia menegaskan, iklim keamanan menjadi salah satu komponen penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu.
“Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman,” terangnya.
Pemerintah pusat dan daerah, lanjut Iman, juga harus mendampingi satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, serta tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun.
Di sisi lain, P2G memberikan apresiasi terhadap dedikasi guru di Indonesia. Berdasarkan data PISA 2025, sebanyak 85 persen murid Indonesia menilai guru terus mengajar sampai mereka mengerti. “Angka itu jauh di atas rata-rata OECD sebesar 69 persen,” kata Iman.
Selain itu, lanjut dia, sebanyak 80 persen murid menyatakan guru membantu hingga mereka benar-benar memahami materi dengan memberikan penjelasan tambahan. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73 persen.
Iman menilai data tersebut menunjukkan tingginya rasa tanggung jawab dan dedikasi guru Indonesia terhadap murid.
“Guru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali,” jelasnya.
Namun, dikatakan dia, kondisi tersebut juga memiliki sisi paradoksal. Tingginya waktu ekstra yang diberikan guru dapat menjadi indikasi bahwa sebagian murid belum memiliki kemandirian dalam belajar. Pada saat yang sama, beban kerja guru menjadi semakin tinggi.
Iman mengingatkan pemerintah tidak boleh berpuas diri dengan kenaikan skor PISA 2025. Sebab, pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar untuk mencapai target PISA 2029 sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN 2025-2029.
Target tersebut yakni skor membaca sebesar 409, matematika 416, dan sains 426. “Skor PISA Indonesia naik, tetapi tugas rumah pemerintahan Prabowo ke depan tidaklah mudah,” ucapnya. (nas)























