INDOPOSCO.ID – Rarak Ronges, sebuah desa di Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) punya cara sendiri untuk memperkenalkan dirinya. Bukan melalui hamparan perbukitan atau cerita tentang perkebunan, melainkan lewat biji-biji kopi yang perlahan meninggalkan kebun dan membawa nama desa itu menuju pasar yang lebih jauh.
Biji kopi melewati proses panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam kemasan. Dari kebun petani, biji diproses, disortir, disangrai, digiling, kemudian dikemas dengan identitas yang membawa nama daerah asalnya.
Kawa Rama
Ya, nama tersebut kini menjadi bagian dari perjalanan sebuah usaha lokal yang mencoba mengubah kopi dari komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah sekaligus membawa cerita Rarak Ronges ke pasar yang lebih luas.
Ketika Kopi Lokal Menemukan Identitas
Di balik Kawa Rama ada Wardani Murti. Pria yang akrab disapa Mas Dani itu merupakan pemilik usaha coffee roastery yang berlokasi di Rarak Ronges.
Kawa Rama memproduksi kopi dalam bentuk biji sangrai maupun bubuk. Jenis kopi yang diolah cukup beragam, mulai dari Robusta, Arabica hingga Liberika. Kawa Rama juga melayani jasa sangrai bagi konsumen yang ingin mengolah biji kopi miliknya sendiri.
Namun, bagi Mas Dani, kekuatan Kawa Rama bukan hanya terletak pada banyaknya jenis kopi yang ditawarkan. Ada identitas Rarak Ronges yang ingin terus dibawa dalam setiap produk.
“Kawa Rama merupakan nama brand kopi lokal dari Rarak Ronges Sumbawa Barat yang fokus bisnisnya di bidang pengolahan dan roastery kopi,” ujar Wardani kepada INDOPOSCO melalui gawai, Kamis (3/9/2026).
Kopi Rarak memiliki cerita yang berawal dari kebun. Para petani selama ini membudidayakan kopi secara tradisional. Pengetahuan mengenai tanaman, perawatan hingga proses panen menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Kawa Rama kemudian mencoba mempertemukan tradisi tersebut dengan proses pengolahan yang lebih terukur.
“Kopi Rarak ditanam dan dibudidayakan oleh petani secara tradisional, diproses pascapanen yang sesuai SOP,” kata Mas Dani.
Menurutnya, proses tersebut turut menjaga karakter rasa yang menjadi kekuatan kopi lokal Rarak.
“Memiliki karakter rasa yang khas dengan citarasa dark coklat, brown sugar,” ujarnya.
Karakter tersebut menjadi modal penting ketika kopi lokal mulai diperkenalkan kepada konsumen di luar daerah.

Dari Pelatihan Branding ke Pasar yang Lebih Luas
Perjalanan Kawa Rama mengalami perubahan penting sejak 2023. Pada tahun tersebut, usaha ini menjadi salah satu UMKM binaan PT Amman Mineral Nusa Tenggara, anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Salah satu pengalaman awal yang diikuti Mas Dani adalah pelatihan branding.
Bagi pelaku usaha kecil, branding bukan sekadar persoalan membuat kemasan terlihat menarik. Identitas merek menjadi cara untuk menjelaskan kepada konsumen siapa produsen di balik sebuah produk, dari mana produk tersebut berasal, dan mengapa produk itu layak dipilih.
Mas Dani mengaku pelatihan tersebut membuatnya melihat kopi lokal dari sudut pandang berbeda.
“Awal mula pada tahun 2023 kita menjadi UMKM binaan PT Amman. Saat itu kita pertama kali mengikuti pelatihan branding yang diadakan oleh Amman Mineral dengan beberapa rekan-rekan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat,” tuturnya.
Sejak saat itu, pengembangan Kawa Rama mulai bergerak pada berbagai sisi. Tidak hanya rasa dan proses produksi, tetapi juga bagaimana produk ditampilkan dan diperkenalkan kepada konsumen.
Perubahan tampilan kemasan menjadi salah satu yang paling mudah terlihat. Produk yang sebelumnya tampil sederhana mulai diarahkan menjadi lebih modern dan memiliki identitas yang lebih kuat.

Bukan Hanya Kemasan, Tetapi Juga Kapasitas Usaha
Pendampingan yang diterima Kawa Rama kemudian berkembang lebih jauh. Mas Dani merasakan perubahan pada kualitas produk, kapasitas produksi hingga omzet. Promosi yang dilakukan dengan dukungan AMMAN juga membantu memperkenalkan Kawa Rama kepada pasar yang lebih luas.
“Perubahan yang kami rasakan setelah menjadi mitra AMMAN, tampilan kemasan lebih modern, kualitas semakin baik, produksi semakin meningkat, omzet meningkat berkat promosi dibantu juga oleh AMMAN,” tutur Mas Dani.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Kawa Rama sebagai pelaku usaha. Pengetahuan yang berkaitan dengan kopi juga perlahan bergerak hingga ke tingkat petani.
Para petani mulai mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai budidaya, perawatan tanaman dan penanganan pascapanen.
Hal itu menjadi penting karena kualitas kopi tidak dimulai ketika biji masuk ke mesin sangrai. Mutu kopi sudah ditentukan sejak tanaman dirawat, buah dipanen dan biji diproses setelah panen.
Semakin baik proses di tingkat kebun, semakin besar peluang menghasilkan bahan baku yang konsisten ketika sampai di tangan roaster.
Dengan demikian, pertumbuhan Kawa Rama ikut menciptakan hubungan yang lebih erat antara pelaku UMKM dan petani kopi.
Membawa Nama Rarak Ronges Keluar Pulau Sumbawa
Perubahan tersebut mulai membuka pintu pasar yang sebelumnya sulit dijangkau. Kawa Rama kini tidak hanya berupaya menjual produk di wilayah Sumbawa Barat. Perjalanan mereknya mulai bergerak melampaui Pulau Sumbawa.
Mas Dani menyebut pihaknya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan roastery kopi di Pulau Lombok. Peluang kerja sama pasokan biji kopi juga tengah disiapkan untuk tahun berikutnya.
Perluasan pasar tersebut memberikan peluang baru bagi usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membangun jaringan bisnis.
Namun, pasar yang semakin luas juga menghadirkan tantangan. Produksi harus mampu mengikuti permintaan, sementara kualitas dan karakter kopi harus tetap dipertahankan.
Bagi Kawa Rama, tantangan itu menjadi bagian dari proses menuju usaha yang lebih matang.
Kopi sebagai Jalan Ekonomi Baru
Di Rarak Ronges, pengembangan kopi memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar memperluas pasar sebuah merek.
Komoditas tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi diversifikasi ekonomi daerah.
Ketika permintaan kopi meningkat, peluang ekonomi juga dapat tumbuh di berbagai titik. Mulai dari petani yang menghasilkan biji, tenaga kerja yang mengolah, pelaku usaha yang melakukan roasting dan pengemasan, hingga jaringan pemasaran yang membawa produk ke konsumen.
Inilah yang membuat pengembangan UMKM menjadi penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat.
Saat masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo pada Jumat (26/6/2026) mengatakan UMKM memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena memberikan sumbangan signifikan, khususnya dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.
“UMKM juga dipercaya memiliki ketahanan ekonomi yang tinggi sehingga dapat menjadi penopang bagi stabilitas sistem keuangan dan perekonomian,” kata Perry pada saat itu.
Cerita Kawa Rama menunjukkan bagaimana peran tersebut dapat tumbuh dari sebuah desa.
Sebuah usaha kecil tidak hanya menjual produk, tetapi juga dapat menjadi simpul yang menghubungkan potensi alam, keterampilan masyarakat, kreativitas, dan pasar.
Dari Kebun Menuju Identitas Daerah
Mas Dani menyadari perjalanan untuk menjadikan kopi Rarak dikenal lebih luas masih panjang.
Karena itu, ia berharap program pendampingan dapat terus dilanjutkan, terutama pada tingkat kebun dan petani.
Salah satu yang menurutnya penting adalah keberlanjutan demplot (demonstration plot atau lahan percontohan) kebun kopi di Desa Rarak Ronges.
“Harapan ke depan AMMAN bisa melanjutkan program pendampingan demplot kebun kopi yang ada di Desa Rarak Ronges supaya bisa menjadi wadah belajar petani kopi yang lainnya,” ujarnya.
Demplot tersebut diharapkan dapat menjadi tempat belajar bersama. Petani tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga bisa melihat secara langsung praktik budidaya, perawatan tanaman dan pengelolaan kebun yang lebih baik.
Harapan lainnya adalah memperoleh dukungan pemerintah agar kopi Rarak dapat memiliki sertifikat indikasi geografis.
“Selanjutnya membantu kepada pemerintah untuk membantu para petani kopi Rarak mendapatkan sertifikat indikasi geografis supaya nama kopi lokal bisa masuk ke jajaran kopi Nusantara,” kata Mas Dani.
Bagi Rarak Ronges, pengakuan tersebut bukan sekadar persoalan administratif.
Indikasi geografis dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas kopi yang memiliki keterkaitan dengan wilayah asalnya.
Jika terwujud, nama Rarak Ronges memiliki peluang semakin kuat melekat pada produk kopi yang dihasilkan masyarakatnya.
Secangkir Kopi dan Cerita tentang Masa Depan
Sore mungkin akan datang dan mesin sangrai di ruang produksi Kawa Rama akan kembali berhenti. Aroma kopi yang memenuhi ruangan perlahan menghilang dari udara.
Namun, perjalanan kopi Rarak tidak berhenti ketika mesin dimatikan.
Ia kembali ke kebun, kepada petani yang merawat tanaman. Kemudian bergerak ke ruang produksi, masuk ke dalam kemasan, dibawa ke pasar dan akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Dalam setiap tahapan itu, ada nilai ekonomi yang sedang dibangun.
Tetapi ada pula sesuatu yang tidak terlihat dalam angka penjualan: kebanggaan terhadap daerah asal.
Kawa Rama sedang mencoba menunjukkan bahwa kopi dari sebuah kawasan di Sumbawa Barat dapat memiliki cerita yang layak didengar lebih jauh.
Cerita tentang petani yang membudidayakan kopi secara tradisional. Tentang cita rasa dark chocolate dan brown sugar yang menjadi karakter produk. Tentang UMKM yang belajar memperbaiki kemasan, kualitas, produksi dan pemasaran. Tentang pendampingan yang membuka akses menuju pasar baru.
Dan terutama, tentang sebuah desa yang ingin memperkenalkan dirinya melalui secangkir kopi.
Pada akhirnya, kopi Rarak Ronges mungkin memang dimulai dari biji kecil yang tumbuh di perbukitan.
Namun ketika diolah dengan pengetahuan, dipasarkan dengan identitas dan dikembangkan bersama masyarakat, biji itu dapat membawa cerita yang jauh lebih besar.
Dari Rarak Ronges, Kawa Rama sedang menyeduh bukan hanya kopi, tetapi juga harapan agar nama Sumbawa Barat semakin dikenal melalui kekayaan lokalnya. (her)






















