INDOPOSCO.ID – Ketika bencana datang, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi kehadiran. Prinsip itu yang terlihat dalam respons Grup PT United Tractors Tbk (UT) bersama anak perusahaannya, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), PT Kalimantan Prima Persada (KPP), PT Agincourt Resources (PTAR), PT Sumbawa Jaya Raya (SJR), PT Traktor Nusantara (Traknus), dan PT Bina Pertiwi (BP), bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak masa tanggap darurat, dukungan digerakkan dari berbagai sisi. Tim Emergency Response Team (ERT) diterjunkan, bantuan logistik disalurkan, layanan kesehatan dan makanan siap saji disediakan, sementara asesmen dilakukan untuk membaca kebutuhan warga di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ende, hingga Sikka.
Pada 19-27 Agustus 2026, hingga 20 personel ERT dari UT, PAMA, KPP, PTAR, dan SJR bekerja langsung di lapangan. Mereka tidak hanya mendistribusikan bantuan, tetapi juga memberikan pelayanan kesehatan, memetakan kondisi wilayah, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
“Dalam situasi bencana, kecepatan respons dan kolaborasi menjadi kunci untuk membantu masyarakat selama masa tanggap darurat. Melalui sinergi seluruh entitas Grup UT, kami berupaya mengerahkan sumber daya yang kami miliki agar bantuan dapat menjangkau masyarakat sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Head of Corporate Communications and Sustainability Division UT, Dianwahyu Sri Purnomo dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).
“Kami berharap dukungan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan di wilayah terdampak,” sambungnya.
Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah layanan kesehatan. Hingga 27 Agustus 2026, layanan yang digelar di berbagai titik telah melayani 895 pasien. Pelayanan tersebut menjangkau Desa Satar Ngkeling, Desa Tuke, Desa Banka Kenda, Dusun Ranggi, Desa Bekakor, Dusun Lalong, hingga Desa Kakor di Kabupaten Manggarai.
Tak berhenti pada kebutuhan fisik, dukungan juga menyasar pemulihan psikologis. PAMA menghadirkan layanan psikososial bagi anak dan remaja terdampak di Kecamatan Wae Ri’i untuk membantu mereka melewati situasi pascabencana.
“Pada aspek pemenuhan kebutuhan dasar, Grup UT menyalurkan berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat maupun keluarga karyawan Grup UT yang terdampak. Di Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, bantuan logistik telah menjangkau 1.099 kepala keluarga di Desa Compang Ndehes dan Desa Ndehes,” jelas Dianwahyu.
Bantuan berupa paket sembako, terpal, tikar, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya juga mengalir ke Desa Satar Keling, Kelurahan Tiong Toko, Desa Bentang Poco, serta sejumlah wilayah terdampak lainnya di Manggarai.
Di Kabupaten Ende, sebanyak 100 paket bantuan disalurkan bagi masyarakat Desa Roga melalui kolaborasi dengan RRI Ende dan TNI AU.
“Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat, Grup UT juga mendistribusikan makanan siap saji di sejumlah lokasi pengungsian, termasuk 100 porsi makanan siap saji di wilayah Wae Ri’i,” tuturnya.
Kepedulian juga diarahkan kepada keluarga karyawan Grup UT yang terdampak di Kabupaten Ende. Di saat yang sama, dukungan operasional diberikan untuk memastikan rantai bantuan tetap bergerak.
KPP menyerahkan tiga unit genset bagi gereja-gereja di Desa Satar Ngkeling, Desa Golo Cador, dan Desa Longko. Sementara Traknus dan BP menyediakan dua unit forklift untuk membantu BNPB mengelola dan memobilisasi bantuan di Gudang Logistik Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
“Selain penyaluran bantuan, Grup UT turut melakukan asesmen kondisi wilayah terdampak guna memastikan dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di Kecamatan Wae Ri’i, KPP melakukan asesmen di lima desa untuk memetakan kondisi masyarakat dan dampak terhadap fasilitas umum,” jelas Dianwahyu.
Langkah serupa dilakukan di Ende dan Sikka. Koordinasi dengan BPBD Ende diarahkan untuk mendata sekolah, fasilitas umum, dan rumah ibadah yang terdampak. Sementara di Sikka, koordinasi dilakukan terkait rencana distribusi bantuan ke Desa Umagera sekaligus pendataan sekolah terdampak.
Seluruh langkah tersebut bergerak melalui kolaborasi Grup UT bersama BNPB, BPBD, pemerintah daerah, TNI AU, RRI, dan berbagai pihak lainnya. Bagi masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit, sinergi ini menjadi bagian penting agar bantuan tidak berhenti pada penyaluran, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
“Ke depan, Grup UT akan terus memantau perkembangan kondisi di wilayah terdampak dan menyesuaikan dukungan berdasarkan hasil asesmen serta kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Dukungan pun diproyeksikan terus berlanjut seiring proses pemulihan. Dengan pemantauan dan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, Grup UT berharap kehadirannya dapat membantu masyarakat NTT bangkit dan mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak gempa. (srv)






















