• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Cegah Karhutla, BRIN Pantau Tinggi Muka Air Tanah Gambut

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Kamis, 3 September 2026 - 12:55
in Nasional
Kebakaran hutan dan lahan. Foto: Dok BNPB

Kebakaran hutan dan lahan. Foto: Dok BNPB

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Cegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) di kawasan gambut. Teknologi tersebut diharapkan mampu menjadi sistem peringatan dini sebelum kebakaran terjadi.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman mengatakan, kondisi air menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kerentanan lahan gambut terhadap karhutla. Gambut secara alami mampu menyimpan air dalam jumlah besar sehingga ketika mengalami kekeringan, potensi terbakar semakin tinggi.

BacaJuga:

Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon

Cegah Penyalahgunaan, Menkum Dorong Percepatan E-Notary dan Perkuat Integritas Notaris

“Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gambut mengering adalah pembangunan kanal. Dan ini penyebab Karhutla. Dengan kanal mengubah tata air dengan mengalirkan air dari kawasan gambut menuju wilayah yang lebih rendah,” ujar Albertus dalam kegiatan, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, penurunan muka air tanah akibat perubahan tata air dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila terjadi pada kawasan yang dikelola untuk kebutuhan budidaya dan menggunakan kanal sebagai sarana pengaturan air.

“Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya,” jelasnya.

Karhutla di lahan gambut, lanjut Albertus, memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran pada umumnya. Api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar di permukaan karena dapat terus membakar lapisan gambut di bawah tanah.

Ia mengatakan, proses pembakaran perlahan tersebut dikenal dengan istilah smoldering. Laju pembakarannya memang lambat, namun dapat berlangsung dalam waktu lama dan menjalar di bawah permukaan sehingga menyulitkan proses deteksi maupun pemadaman.

Karena itu, lanjut dia, pemanfaatan teknologi menjadi penting untuk mengantisipasi kebakaran gambut. Selain penginderaan jauh dan data satelit, BRIN mengembangkan sistem pemantauan GWL untuk mengetahui perubahan kondisi air di kawasan gambut.

Albertus menjelaskan, perubahan tinggi muka air tanah dapat menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran. Hasil penelitian BRIN menunjukkan, ketika GWL mendekati atau melewati titik kritis tertentu, indikasi asap dapat terdeteksi setelahnya.

“GWL dapat digunakan sebagai early warning system untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sistem pemantauan tersebut beroperasi setiap hari di berbagai wilayah Indonesia. Data yang dihimpun dapat digunakan untuk memahami perubahan kondisi hidrologi gambut sekaligus menjadi bahan pendukung dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan lahan.

Selain untuk mendeteksi potensi karhutla, masih ujar dia, pemantauan GWL juga berkaitan dengan pemantauan emisi karbon yang dihasilkan kawasan gambut. Upaya menjaga kondisi gambut tetap basah dinilai memiliki manfaat lebih luas bagi lingkungan.

Albertus menambahkan, hasil penelitian terbaru BRIN menunjukkan hutan rawa gambut memiliki peran dalam modulasi hujan lokal. Ekosistem tersebut tidak hanya menyimpan karbon dalam jumlah besar dan menjaga keseimbangan tata air, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan hujan lokal.

“Menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya,” ujarnya. (nas)

Tags: BRINKarhutlalahan gambutTeknologi Peringatan Dini

Berita Terkait.

Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan
Nasional

Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 23:20
Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon
Nasional

Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:57
Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan
Nasional

Cegah Penyalahgunaan, Menkum Dorong Percepatan E-Notary dan Perkuat Integritas Notaris

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:23
Pemilihan Ketua Umum IKA FH Trisakti Diwarnai Keberatan Peserta
Nasional

Pemilihan Ketua Umum IKA FH Trisakti Diwarnai Keberatan Peserta

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 20:04
Tinjau Karhutla Way Kambas, Kepala BNPB Sebut 40 Hektare Lahan Belum Padam
Nasional

Kemendagri Dorong Penguatan Peran Karang Taruna sebagai Penggerak Pembangunan Nasional

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:06
Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan
Nasional

Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 18:51

OLAHRAGA

NOC Indonesia
Olahraga

Menuju Dakar 2026, NOC Indonesia Resmi Lepas 12 Atlet Muda Terbaik

Editor Folber Siallagan
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 02:22

INDOPOSCO.ID – Sebanyak 12 atlet muda Indonesia bersiap membawa Merah Putih ke panggung dunia melalui Youth Olympic Games (YOG) Dakar...

SelengkapnyaDetails
champion

Hasil Liga Champions: MU Dipermak Como, Bayern Gagal Menang Atas Arsenal

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:10
persija

Persija vs Arema: Shin Tae-yong Siapkan Strategi Redam Singo Edan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:51
Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:16
Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:31

BERITA POPULER

  • Inovasi Hijau Garuda-EIGER, Material Bekas Pesawat Disulap Jadi Tas Fungsional

    Bea Cukai Gagalkan Pengangkutan 1,6 Juta Batang Rokok Ilegal di Tol Ciperna

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Atasi Suhu Panas, Pemprov Jakarta Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

    899 shares
    Share 360 Tweet 225
  • Napoleon Bonaparte Tutup Usia, Dokter Tifa: Pertemuan Minggu Lalu Jadi Kenangan Terakhir

    875 shares
    Share 350 Tweet 219
  • Timnas Futsal Indonesia Gagal Bersinar di Brasil, FFI Soroti Pembenahan Tim dan Tata Kelola

    769 shares
    Share 308 Tweet 192
  • Pernyataan Menkes Soal ‘Adaptasi’ Karhutla Tuai Polemik, Kemenkes Klaim Tak Pasrah

    757 shares
    Share 303 Tweet 189
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.