INDOPOSCO.ID – Cegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) di kawasan gambut. Teknologi tersebut diharapkan mampu menjadi sistem peringatan dini sebelum kebakaran terjadi.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman mengatakan, kondisi air menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kerentanan lahan gambut terhadap karhutla. Gambut secara alami mampu menyimpan air dalam jumlah besar sehingga ketika mengalami kekeringan, potensi terbakar semakin tinggi.
“Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gambut mengering adalah pembangunan kanal. Dan ini penyebab Karhutla. Dengan kanal mengubah tata air dengan mengalirkan air dari kawasan gambut menuju wilayah yang lebih rendah,” ujar Albertus dalam kegiatan, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, penurunan muka air tanah akibat perubahan tata air dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila terjadi pada kawasan yang dikelola untuk kebutuhan budidaya dan menggunakan kanal sebagai sarana pengaturan air.
“Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya,” jelasnya.
Karhutla di lahan gambut, lanjut Albertus, memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran pada umumnya. Api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar di permukaan karena dapat terus membakar lapisan gambut di bawah tanah.
Ia mengatakan, proses pembakaran perlahan tersebut dikenal dengan istilah smoldering. Laju pembakarannya memang lambat, namun dapat berlangsung dalam waktu lama dan menjalar di bawah permukaan sehingga menyulitkan proses deteksi maupun pemadaman.
Karena itu, lanjut dia, pemanfaatan teknologi menjadi penting untuk mengantisipasi kebakaran gambut. Selain penginderaan jauh dan data satelit, BRIN mengembangkan sistem pemantauan GWL untuk mengetahui perubahan kondisi air di kawasan gambut.
Albertus menjelaskan, perubahan tinggi muka air tanah dapat menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran. Hasil penelitian BRIN menunjukkan, ketika GWL mendekati atau melewati titik kritis tertentu, indikasi asap dapat terdeteksi setelahnya.
“GWL dapat digunakan sebagai early warning system untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sistem pemantauan tersebut beroperasi setiap hari di berbagai wilayah Indonesia. Data yang dihimpun dapat digunakan untuk memahami perubahan kondisi hidrologi gambut sekaligus menjadi bahan pendukung dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan lahan.
Selain untuk mendeteksi potensi karhutla, masih ujar dia, pemantauan GWL juga berkaitan dengan pemantauan emisi karbon yang dihasilkan kawasan gambut. Upaya menjaga kondisi gambut tetap basah dinilai memiliki manfaat lebih luas bagi lingkungan.
Albertus menambahkan, hasil penelitian terbaru BRIN menunjukkan hutan rawa gambut memiliki peran dalam modulasi hujan lokal. Ekosistem tersebut tidak hanya menyimpan karbon dalam jumlah besar dan menjaga keseimbangan tata air, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan hujan lokal.
“Menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya,” ujarnya. (nas)























