INDOPOSCO.ID – Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (Setjen DPD RI) menjadikan kesehatan pegawai sebagai bagian penting dari investasi institusi dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkinerja optimal.
Sekretaris Jenderal DPD RI M. Iqbal menegaskan bahwa kesehatan pegawai tidak dapat dipisahkan dari kekuatan dan produktivitas organisasi. Karena itu, Setjen DPD RI mendorong pendekatan yang lebih preventif dengan meningkatkan kesadaran pegawai terhadap faktor risiko kesehatan, termasuk obesitas dan fatty liver.
“Saya melihat kesehatan pegawai sebagai bagian dari investasi institusi. Fatty liver berbanding lurus dengan makan banyak dan keinginan untuk tidak bergerak,” ujar Iqbal di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Karena itu, ia menitipkan agar setiap unit kerja melakukan pendataan, terutama bagi pegawai yang masuk kategori obesitas. Kemudian diberikan arahan dan didorong mengikuti kegiatan olahraga demi kebaikan kesehatan pegawai.
Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya Setjen DPD RI membangun budaya hidup sehat yang tidak berhenti pada edukasi, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah nyata di lingkungan kerja.
“Pendekatan preventif penting agar pegawai memiliki kesadaran lebih baik terhadap kondisi tubuhnya dan terdorong melakukan perubahan gaya hidup sebelum muncul persoalan kesehatan yang lebih serius,” ungkapnya.
Ia menilai lingkungan kerja yang sehat akan memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan kualitas pelaksanaan tugas kelembagaan.
“Kita ingin pegawai Setjen DPD RI tidak hanya sehat saat bekerja, tetapi memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup. SDM yang sehat adalah kekuatan institusi, dan karena itu upaya seperti ini harus terus kita dorong,” kata Iqbal.
Di tempat yang sama, dokter spesialis penyakit dalam, Gerry Permadi menjelaskan, bahwa fatty liver berkaitan dengan penumpukan lemak pada liver dan memiliki hubungan erat dengan obesitas serta gangguan metabolik. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat berlangsung dengan gejala yang minim pada tahap awal.
“Fatty liver tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita makan, tetapi juga dengan seberapa aktif kita bergerak,” ujarnya.
“Menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, menjaga kadar kolesterol, dan menghindari alkohol merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan liver,” sambung Gerry.
Ia menekankan bahwa risiko tersebut dapat dicegah dan dikendalikan melalui deteksi dini serta perbaikan pola hidup yang dilakukan secara konsisten.
“Pencegahan selalu menjadi langkah yang penting. Jangan menunggu sampai muncul keluhan untuk mulai menjaga kesehatan,” katanya.
“Dengan mengenali faktor risiko dan melakukan perubahan gaya hidup sejak dini, kita dapat menjaga kesehatan liver sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” imbuhnya. (nas)























