INDOPOSCO.ID – Cengkeh Indonesia kembali mendapatkan pembeli dari Arab Saudi. Sebanyak 10 ton cengkeh senilai USD 78 ribu atau sekitar Rp1,3 miliar berhasil dipesan melalui penandatanganan kontrak pembelian atau Sales Purchase Agreement (SPA) pada Kamis (20/8/2026) secara virtual.
Kesepakatan tersebut menjadi bukti cengkeh Indonesia memiliki tempat di pasar Arab Saudi sekaligus menunjukkan daya saing komoditas rempah nasional di pasar global. Kontrak pembelian itu diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi produk Indonesia, khususnya di kawasan Teluk.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan, masuknya cengkeh Indonesia ke pasar Arab Saudi menunjukkan produk nasional memiliki kualitas berstandar internasional. Karena itu, kesepakatan tersebut diharapkan menjadi pintu bagi semakin banyak produk Indonesia menembus pasar global.
“Penandatanganan kontrak pembelian cengkeh ke Arab Saudi makin menunjukkan Indonesia memiliki produk berkualitas internasional. Kami harap, penandatanganan kontrak pembelian ini dapat makin membuka akses produk Indonesia di pasar global, khususnya kawasan Teluk,” ujar Fajarini.
Sebelumnya, kontrak pembelian tersebut ditandatangani Direktur sekaligus pemilik PT Navva Nusantara Commodities Ati Hernawati Dani dengan Purchasing Manager Al Nafea Foods Co. dari Arab Saudi Kamal E. Ozaz.
Kesepakatan ini merupakan hasil fasilitasi penjajakan bisnis (business matching) yang dilakukan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah pada Juni 2026.
Kepala ITPC Jeddah Bagas Haryotejo mengatakan, tantangan perdagangan ke kawasan Teluk saat ini cukup besar. Konflik regional berdampak terhadap kenaikan biaya pengapalan dari Indonesia ke Arab Saudi hingga tiga kali lipat.
Meski demikian, ITPC Jeddah tetap berkomitmen membantu eksportir Indonesia, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk menjajaki pasar Arab Saudi. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi tetap terjaga.
“Kami akan terus mendorong kesepakatan bisnis antara eksportir Indonesia dan para importir di Arab Saudi. Kami berharap eksportir yang telah mendapatkan pasar di Arab Saudi terus mempertahankan kualitasnya agar kepercayaan terhadap Indonesia terus terjaga,” kata Bagas.
Dia menambahkan, konsistensi menjaga kualitas diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih besar dengan para importir Arab Saudi meski perdagangan tengah menghadapi berbagai tantangan.
Diketahui, kinerja perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi juga menunjukkan tren positif. Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan kedua negara tercatat USD 1,69 miliar.
Nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 1,02 miliar, sedangkan impor dari negara tersebut sebesar USD 665,10 juta. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 357,3 juta.
Pada 2025, total perdagangan nonmigas Indonesia-Arab Saudi mencapai USD 3,94 miliar. Ekspor Indonesia tercatat USD 2,88 miliar, sementara impor sebesar USD 1,06 miliar. Indonesia pun membukukan surplus sebesar USD 1,82 miliar.
Sejumlah produk utama Indonesia yang diekspor ke Arab Saudi meliputi kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, berbagai makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu.
Adapun produk utama yang diimpor Indonesia dari Arab Saudi antara lain garam, belerang, kapur, plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan. (nas)






















