INDOPOSCO.ID – Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai, rencana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) Pertalite untuk kelompok masyarakat desil 9 dan 10 bakal sulit terealisasikan, mengingat validasi data penerima masih menjadi ganjalan utama.
“Saya ragu penggunaan desil itu jauh lebih sulit gitu ya. Bagaimana mekanisme desil tadi gitu ya? Pertama, ini harus ada data yang akurat siapa yang masuk kategori desil 9 dan desil 10,” kata Fahmy Radhi dalam keterangan audio, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Bahkan, petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akan kesulitan mengidentifikasi kelompok masyarakat yang tergolong memiliki tingkat kesejahteraan relatif tinggi.
“Nah, kemudian yang kedua, di SPBU ini petugas akan kesulitan siapa yang menjadi desil 9 dan desil 10 tadi,” ucap Fahmy Radhi.
Dua alasan tersebut dinilai akan menyulitkan penerapan rencana pembatasan pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite, terlebih lagi jumlah pengguna BBM tersebut sangat banyak.
“Sehingga saya nggak yakin bahwa penggunaan desil 9 dan desil 10 akan diterapkan dan akhirnya juga tidak pernah ada lagi pembatasan Pertalite yang jumlahnya cukup besar,” ujar Fahmy Radhi.
Ia menambahkan, munculnya wacana pembatasan pembelian BBM Pertalite bukan sesuatu yang baru. Hal itu pernah digulirkan sejak era pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo, namun tidak terwujud.
“Pemerintah sejak 10-an tahun yang lalu juga, sejak zaman Jokowi, itu sudah berupaya untuk melakukan pembatasan-pembatasan dengan beberapa metode atau mekanisme gitu ya, tapi selalu gagal, tidak pernah diterapkan hingga sekarang gitu ya,” imbuh Fahmy Radhi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, rencana pembatasan bahan bakar minyak Pertalite untuk kelompok masyarakat desil 9 dan 10 masih dikaji.
“Pembatasan pertalite sekarang kan kita masih dalam kajian, lagi dikaji. Kalau sampai dengan keputusan kajian belum ada, masih seperti sekarang ini,” tutur Bahlil terpisah ketika ditemui di sela-sela acara Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta International Convention Center, Rabu (19/8/2026). (dan)






















