INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah sehari sebelumnya berhasil ditutup menguat 29 poin ke level Rp17.798 per dolar AS. Optimisme tersebut muncul di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai arah pergerakan rupiah hari ini akan dibentuk oleh sejumlah faktor eksternal maupun dalam negeri yang sedang berkembang. Menurutnya, volatilitas tetap berpotensi terjadi sepanjang sesi perdagangan.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750 – Rp17.800,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima wartawan, Selasa (18/8/2026).
Dari pasar global, fokus investor tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi langkah kebijakan moneter bank sentral AS dalam beberapa bulan mendatang.
Ibrahim menjelaskan, kepercayaan konsumen di AS tercatat melemah untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Di saat yang sama, data penjualan ritel juga mengalami penurunan bulanan terdalam dalam lebih dari setahun, memperkuat sinyal perlambatan aktivitas ekonomi Negeri Paman Sam.
Melemahnya sejumlah data ekonomi tersebut dinilai mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk kembali mengambil langkah pengetatan yang lebih agresif. Situasi ini turut mendorong minat investor terhadap berbagai instrumen yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga, termasuk aset safe haven seperti emas.
“Para investor akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai pandangan para pembuat kebijakan pada hari Rabu, saat risalah rapat The Fed bulan Juli dijadwalkan untuk dirilis,” terang Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, aktivitas pasar keuangan masih belum sepenuhnya berjalan normal karena libur peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski demikian, upaya menjaga kestabilan nilai tukar tetap dilakukan melalui langkah intervensi yang dijalankan Bank Indonesia (BI) di pasar internasional.
Bank sentral, kata Ibrahim, tetap aktif melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) guna meredam gejolak dan menjaga pergerakan rupiah tetap berada dalam jalur yang terkendali di tengah minimnya aktivitas pasar domestik.
Perhatian investor pada pekan ini juga mengarah ke rapat dewan gubernur BI yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (19/8/2026). Keputusan tersebut dinilai penting karena akan menjadi penentu arah kebijakan moneter sekaligus cerminan strategi menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
“Ekonom memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen. Ini akan menjadi keputusan kebijakan moneter perdana BI di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI,” tambahnya. (her)























