INDOPOSCO.ID – Memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada Senin (17/8/2026), upaya menjaga ketahanan energi terus digenjot melalui eksplorasi sumber daya baru, pengembangan lapangan, dan penerapan teknologi untuk mengoptimalkan produksi migas.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina mencatat sejumlah capaian strategis sepanjang Semester I 2026. Dari Kalimantan hingga Sulawesi Barat, berbagai proyek dijalankan untuk memperkuat pasokan energi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
Salah satu capaian penting datang dari Survei Seismik 3D Kandawulo di wilayah terbuka South Kutai Basin, perairan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Survei yang merupakan bagian dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang (KKPJM) itu mencakup area offshore 2.500 kilometer persegi dan selesai lebih cepat dari target dengan catatan zero accident.
Bersama PT Elnusa Tbk, akuisisi data menggunakan teknologi broadband marine streamer untuk memperoleh gambaran struktur bawah permukaan yang lebih akurat sehingga peluang menemukan sumber daya migas baru meningkat.
Corporate Secretary PHE, Hermansyah Y Nasroen, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjalankan eksplorasi secara unggul sekaligus mengutamakan keselamatan.
“Keberhasilan Survei Seismik 3D Kandawulo yang diselesaikan lebih cepat dari rencana dengan catatan zero accident merupakan bukti komitmen Pertamina Subholding Upstream dalam menghadirkan kinerja eksplorasi yang unggul, aman, dan berkelanjutan,” ujar Hermansyah dalam keterangannya.
Dukungan Pemerintah Kabupaten Mamuju dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat turut menjadi kunci kelancaran kegiatan tersebut. Capaian Kandawulo pun dipersembahkan sebagai kado bagi Indonesia pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Di Kalimantan, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) juga mencatat perkembangan penting. PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menyelesaikan pemasangan topside platform Proyek Manpatu pada akhir Mei 2026. Sebulan kemudian, platform keempat Proyek Sisi Nubi AOI mencapai tahap onstream. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan gas nasional dan menjaga keandalan operasi hulu migas.
Di sektor eksplorasi, PHE terus memperlebar portofolio. Sejak 2022 hingga 2025, perusahaan memperoleh sembilan Wilayah Kerja (WK) eksplorasi baru, termasuk WK Binaiya di Maluku, WK Lavender di Sulawesi Tenggara, dan WK Bobara di Papua.
Hingga akhir Juni 2026, PHE mengamankan potensi sumber daya kontingen 2C sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE). Kontribusi signifikan juga berasal dari penemuan terobosan Migas Nonkonvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan dengan potensi hingga 724,22 juta barel minyak (MMBO).
Selain mengejar sumber daya baru, PHE mengembangkan teknologi untuk mengoptimalkan lapangan yang telah berproduksi puluhan tahun.
PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) resmi memulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES), melalui injeksi perdana polimer.
Teknologi polymer flooding dilakukan dengan menginjeksikan larutan polimer ke reservoir untuk meningkatkan sweep efficiency dan mendorong sisa minyak agar dapat diproduksikan secara optimal. Proyek tersebut menjadi implementasi CEOR offshore pertama di Indonesia.
Hermansyah mengatakan proyek Rama tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi sarana mengumpulkan data dan memvalidasi teknologi sebelum dikembangkan lebih luas.
“Proyek ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi minyak, tetapi juga menjadi sarana pengumpulan data operasional dan validasi teknologi sebagai landasan pengembangan CEOR secara full field di masa depan,” kata Hermansyah.
Teknologi CEOR juga diterapkan secara komersial di Minas Area A, Zona Rokan, yang dikelola Pertamina Hulu Rokan (PHR). Lapangan yang telah berproduksi sejak 1952 tersebut ditargetkan meningkatkan perolehan minyak sebesar 12 hingga 16 persen dari Original Oil in Place (OOIP).
Pengembangan Minas Area A diproyeksikan memberikan kontribusi produksi sekitar 70 ribu barel minyak per hari pada 2030 dan mencapai puncak hingga 200 ribu barel per hari pada 2036. Pengalaman ini membuka peluang pengembangan CEOR di area Rokan lainnya.
“Meskipun Minas merupakan lapangan mature, potensi cadangan di bawah permukaan masih sangat besar. Karena itu, penerapan teknologi ini menjadi milestone strategis untuk mengoptimalkan produksi dan mendukung pencapaian target energi nasional,” tutur Hermansyah.
Memasuki paruh kedua 2026, PHE melanjutkan pengembangan sejumlah proyek greenfield, antara lain Akasia Prima, Padang Pancuran, OO OX ONWJ, Sisi Nubi AOI, South Senoro, Manpatu, dan Masela. Program rejuvenasi dan revitalisasi juga dilakukan pada aset eksisting seperti Area Benuang, Lima ONWJ, ABAB, Tanjung Miring Barat, Lembak Kemang Tapus, dan Salawati.
Di sisi teknologi, PHE mengakselerasi multistage fracturing pada sumur horizontal Kotabatak dan Rokan, steamflood injection North Duri Area 14, CEOR, eksplorasi Deepwater Natuna Timur, serta pengembangan proyek CCS/CCUS.
Hermansyah menegaskan kombinasi eksplorasi, inovasi teknologi, dan disiplin keselamatan menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Melalui kombinasi eksplorasi yang agresif, inovasi teknologi EOR yang unggul, serta komitmen penuh terhadap keselamatan kerja (HSSE), Pertamina Subholding Upstream optimistis dapat terus memimpin langkah dalam menguatkan kedaulatan dan ketahanan energi Indonesia,” tambahnya.
PHE juga memastikan pengelolaan bisnis hulu migas dilakukan secara berkelanjutan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), disertai penguatan budaya kepatuhan, tata kelola perusahaan yang baik, serta pencegahan fraud.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa menjaga ketahanan energi bukan hanya soal meningkatkan produksi hari ini, tetapi juga memastikan Indonesia memiliki sumber daya, teknologi, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. (her)























