• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Pilkada Tanpa Wakil, Akankah Politik ‘Bagi-Bagi Peran’ Berakhir?

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:43
in Nasional
Surat-Suara

Ilustrasi warga memasukkan surat suara usai mencoblos saat pemilihan kepala daerah pada 2024 lalu. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Wacana mengubah format pemilihan kepala daerah kembali membuka ruang perdebatan. Salah satu gagasan yang mencuat ialah tidak lagi memilih kepala daerah dan wakilnya dalam satu paket sejak awal. Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai gagasan tersebut bukan sesuatu yang keliru, bahkan berpotensi menjadi jalan keluar untuk meredam gesekan politik setelah kontestasi berakhir.

Menurut Hensa, sapaan akrab Hendri Satrio, persoalan hubungan kepala daerah dan wakilnya kerap tidak berhenti ketika hasil Pilkada telah ditetapkan. Dinamika justru bisa muncul ketika keduanya mulai masuk ke pemerintahan dan harus berbagi ruang, kewenangan, serta kepentingan politik.

BacaJuga:

Tak Perlu Bolak-balik Urus Dokumen, Akta Kelahiran Kini Bisa Terbit Otomatis

Menteri PANRB Soroti Pakta Integritas Dua Arah di MPP Sumedang

Jelang Sidang Tahunan, DPR Soroti Ketimpangan Infrastruktur Jalan Nasional dan Daerah

“Wacana ini menurut saya bagus untuk menghindari konflik kepentingan. Selama ini bisa saja wakil kepala daerah memiliki peran besar dalam penyediaan logistik atau sumber daya ketika Pilkada. Setelah menang, kemudian muncul pembicaraan soal pembagian peran, kewenangan, atau kepentingan tertentu,” kata Hensa melalui gawai, Jumat (14/8/2026).

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu melihat potensi persoalan tersebut semakin besar apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah membawa agenda politik yang berbeda. Hubungan yang semula dibangun untuk memenangkan pertarungan elektoral belum tentu otomatis berubah menjadi hubungan kerja yang harmonis ketika keduanya duduk dalam satu pemerintahan.

“Ketika sejak awal ada semacam kontribusi politik masing-masing, setelah terpilih tentu bisa muncul ekspektasi. Wakil merasa punya kontribusi terhadap kemenangan, kemudian meminta bagian tertentu dalam pemerintahan. Kepala daerah juga punya agenda sendiri. Dari situ potensi konfliknya bisa muncul,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Hensa, format tanpa pemilihan wakil kepala daerah secara bersamaan dapat mengubah cara seorang kepala daerah memilih orang yang akan bekerja bersamanya. Sosok pendamping tidak lagi semata-mata dipertimbangkan berdasarkan kekuatan politik yang dibawa saat kampanye, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemerintahan.

“Keuntungan lainnya, kepala daerah yang sudah mendapatkan mandat dari masyarakat bisa memilih orang yang tepat untuk bekerja sama dengannya memimpin daerah selama satu periode,” jelas Hensa.

Dengan pola tersebut, figur pendamping kepala daerah diharapkan benar-benar dipilih berdasarkan kapasitas dan kecocokan kerja. Kompetensi, pengalaman, integritas, hingga kemampuan membaca persoalan daerah dapat menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar besarnya dukungan politik yang berada di belakang seseorang.

“Jadi, pertimbangannya bukan lagi karena siapa yang membawa logistik, siapa yang membawa dukungan politik, atau siapa yang harus mendapatkan bagian setelah Pilkada. Idealnya, yang dicari adalah orang yang memang dibutuhkan untuk membantu pemerintahan berjalan efektif,” tutur Hensa.

Namun, Hensa mengingatkan bahwa menghapus pemilihan wakil kepala daerah secara berpasangan bukan berarti persoalan selesai dengan sendirinya. Justru, desain baru tersebut harus memiliki aturan yang jelas agar proses penentuan wakil tidak berubah menjadi ruang transaksi politik dengan bentuk yang berbeda.

Ia menilai mekanisme penentuan wakil harus dirancang secara hati-hati, termasuk memastikan figur yang dipilih memiliki kemampuan menjalankan tugas pemerintahan sekaligus memperoleh legitimasi yang cukup. Transparansi menjadi penting agar publik dapat mengetahui alasan di balik munculnya seorang figur sebagai pendamping kepala daerah.

“Prinsipnya, kalau mekanismenya bisa membuat kepala daerah dan wakilnya lebih kompak, profesional, dan mengurangi transaksi kepentingan politik, tentu itu baik. Tinggal bagaimana aturan dan mekanisme pemilihannya dirancang supaya tetap transparan dan akuntabel,” tutupnya.(her)

Tags: Hendri SatrioKedaiKOPIpengamat politikpilkada

Berita Terkait.

Rini
Nasional

Tak Perlu Bolak-balik Urus Dokumen, Akta Kelahiran Kini Bisa Terbit Otomatis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:03
Pelayanan-Publik
Nasional

Menteri PANRB Soroti Pakta Integritas Dua Arah di MPP Sumedang

Jumat, 14 Agustus 2026 - 10:42
Pembetulan
Nasional

Jelang Sidang Tahunan, DPR Soroti Ketimpangan Infrastruktur Jalan Nasional dan Daerah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:41
magang
Nasional

6 Bulan Menyelami Cara Negara Bekerja, 74 Talenta Muda Masuk Kementerian PANRB

Jumat, 14 Agustus 2026 - 04:04
tito
Nasional

Mendagri Dorong Pemanfaatan Rilis Publikasi Statistik Perumahan BPS untuk Tekan Backlog

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:52
abdul
Nasional

Bersama 1.000 Penyandang Disabilitas, Mendikdasmen Gaungkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:21

BERITA POPULER

  • ertiga

    Suzuki Ertiga Hybrid Cruise, MPV Nyaman dengan Teknologi Hybrid di GIIAS 2026

    1165 shares
    Share 466 Tweet 291
  • Perayaan 1 Tahun dengan Berbagai Penghargaan, Mitsubishi Destinator Tampil Mentereng di GIIAS 2026

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • iCAR V23 dan V27 Hadir di GIIAS 2026, Bawa Pilihan Baru Kendaraan Elektrifikasi

    972 shares
    Share 389 Tweet 243
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3697 shares
    Share 1479 Tweet 924
  • Restrukturisasi Subholding Upstream, SP PDSI Minta PDSI Diperkuat Jadi National Drilling Champion

    862 shares
    Share 345 Tweet 216
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.