INDOPOSCO.ID – Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menjaga ruang kritik sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Pesan itu disampaikan saat menggelar Reuni Aktivis in the ADK Show (Arena Demokrasi & Kritik) di Auditorium RRI Jakarta, Minggu (26/7/2026), yang dihadiri ratusan aktivis, akademisi, politisi, hingga tokoh nasional lintas generasi.
Kegiatan yang berlangsung hanya beberapa meter dari Istana Negara tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang diskusi bagi tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang politik beragam, mulai dari pendukung pemerintah, kelompok penyeimbang, hingga kalangan oposisi.
Sejumlah nama yang hadir di antaranya Syahganda Nainggolan, Rocky Gerung, Bursah Zarnubi, Mardani Ali Sera, Adian Napitupulu, Titi Anggraini, Feri Amsari, Budiman Tanuredjo, Arifin Ashydad, Akbar Faizal, Syukur Mandar, Akbar Tandjung, Marzuki Darusman, Jimly Asshiddiqie, Suharso Monoarfa, Fachry Ali, hingga MS Kaban.
Dalam kesempatan tersebut, Doli juga meluncurkan empat buku terbarunya berjudul Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, serta Kacamata versi Komik. Dengan peluncuran tersebut, Doli kini telah menerbitkan 14 buku sejak 1999.
Menurut Doli, buku Perspektif bukanlah autobiografi, melainkan kumpulan pandangan mengenai berbagai peristiwa dan tokoh yang mewarnai perjalanan hidupnya sejak kecil hingga menjadi politisi.
“Bukan autobiografi. Ini merupakan cara pandang atau perspektif saya terhadap berbagai peristiwa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang. Satu peristiwa bisa dipahami dengan cara berbeda oleh setiap orang, dan itulah kekayaan perspektif,” ujarnya.
Sementara buku Kacamata Doli Kurnia (2) memuat kumpulan artikel yang ditulisnya selama setahun terakhir mengenai berbagai isu, mulai dari Undang-Undang Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga dinamika geopolitik seperti Palestina dan Iran.
Doli mengatakan aktivitas menulis menjadi ruang refleksi di tengah kesibukannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
“Sebagai anggota parlemen, saya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu daerah pemilihan, tetapi juga seluruh persoalan yang menjadi kegelisahan masyarakat,” tuturnya.
Acara dibuka oleh komika Mamat Alkatiri sebagai pembawa acara dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tokoh senior Partai Golkar Akbar Tandjung kemudian memberikan testimoni mengenai perjalanan politik Doli.
Akbar menegaskan politik merupakan panggilan jiwa, sementara jabatan dan popularitas bukan hanya bentuk penghargaan, melainkan juga ujian bagi seorang pemimpin.
“Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan. Karena itu, selalu membumi dan ingat pada janji-janji yang harus diwujudkan kepada masyarakat,” katanya.
Akbar juga menilai demokrasi harus tetap memberi ruang terhadap kritik, namun tetap berjalan dalam koridor aturan agar menghasilkan kehidupan berbangsa yang lebih baik.
Senada, mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengenang kerja sama dengan Doli saat pembahasan Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, Doli memiliki perhatian terhadap detail, termasuk ketika mengusulkan perlunya payung hukum untuk memastikan dimulainya pembangunan ibu kota baru.
Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menyebut Doli sebagai salah satu kader Golkar dan HMI yang diperhitungkan. Dengan nada bercanda, ia juga menilai Doli masih perlu meningkatkan sisi humor dalam dirinya, yang disambut gelak tawa para peserta.
Sementara itu, aktivis senior Fachry Ali menilai Doli merupakan salah satu figur yang mampu menjadi pegangan di tengah dinamika politik nasional yang penuh ketidakpastian.
Acara semakin hidup melalui sesi roasting yang melibatkan sejumlah aktivis, akademisi, jurnalis, dan politisi. Nama-nama seperti Rocky Gerung, Adian Napitupulu, Mardani Ali Sera, Titi Anggraini, Feri Amsari, Budiman Tanuredjo, Arifin Ashydad, Hendri Satrio, Setiyardi Budiono, Bursah Zarnubi, Akbar Faizal, Syukur Mandar, hingga Syahganda Nainggolan bergantian menyampaikan kritik dan candaan kepada Doli.
Rocky Gerung menyebut kesediaan seseorang untuk di-roasting merupakan indikator keterbukaan terhadap kritik.
“Kalau ada seseorang yang mau di-roasting, itu artinya dia masih punya akal sehat dan keberanian untuk menerima kritik,” kata Rocky.
Jurnalis senior Budiman Tanuredjo juga mengapresiasi konsistensi Doli dalam menghasilkan karya tulis.
“Kita membutuhkan politisi seperti Ahmad Doli Kurnia yang tidak hanya aktif di parlemen, tetapi juga produktif menyampaikan gagasan melalui tulisan,” ujarnya.
Menutup acara, Doli menyampaikan bahwa ADK Show bukan sekadar reuni para aktivis, tetapi juga menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat agar dirinya tetap menjaga semangat aktivisme dalam kehidupan politik.
“Terima kasih atas semuanya. Saya merasa akan tetap menjadi aktivis ke depan. Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka,” ujar Doli.
Ia berharap seluruh masukan yang disampaikan para sahabat, akademisi, jurnalis, maupun tokoh nasional dalam acara tersebut dapat menjadi bekal untuk terus memperbaiki diri serta memperkuat kontribusinya bagi demokrasi Indonesia.(rmn)


















