INDOPOSCO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mendominasi kejadian bencana di berbagai daerah seiring berlangsungnya musim kemarau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah peristiwa karhutla yang terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Timur (Jatim) dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, BNPB Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, karhutla menjadi bencana yang paling banyak terjadi pada periode tersebut.
“Laporan karhutla pertama datang dari Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, kebakaran melanda kawasan C HL Blok Gunung Geni dan Petak 22 C HL Blok Gunung Bentar RPH Klenang, BKPH Probolinggo, yang berada di Desa Bulujaran Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan, serta Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.
“Akibat kejadian ini sekitar 9 hektare lahan terbakar, terdiri atas 4 hektare di Kecamatan Tegalsiwalan dan 5 hektare di Kecamatan Gending,” bebernya.
Ia mengatakan, Karhutla juga terjadi di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. BPBD Kabupaten Ponorogo melaporkan sekitar 2,5 hektare lahan hangus terbakar.
Beruntung, lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman warga sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Peristiwa serupa terjadi di Desa Belah, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Sedikitnya 2 hektare lahan terdampak kebakaran. “Setelah menerima laporan warga, BPBD Kabupaten Pacitan bersama petugas pemadam kebakaran, Satpol PP, dan masyarakat bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” katanya.
Sementara itu, masih ujar dia, di Kabupaten Situbondo, kebakaran melanda lahan di Desa Balung, Kecamatan Kendit. Lahan seluas 2 hektare dilaporkan terbakar, dengan titik api berasal dari kawasan Perhutani.
“BPBD Kabupaten Situbondo segera berkoordinasi dengan berbagai unsur untuk memadamkan api. Berkat kerja sama BPBD, Damkar, relawan, dan masyarakat, kebakaran berhasil dipadamkan,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. (nas)


















