INDOPOSCO.ID – Perguruan tinggi dinilai memiliki peran krusial dalam membangun ketahanan kebencanaan nasional melalui penerapan tata kelola berkelanjutan. Langkah itu menjadi strategi penting memastikan kesiapsiagaan bencana terbangun secara konsisten dari lingkungan akademis.
Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Tria Patrianti menyatakan, bahwa bukan hal mustahil manajemen ketahanan kebencanaan yang berkelanjutan dapat terbentuk jika akademisi ikut mengambil peran aktif di lapangan.
“Tidak mustahil tata kelola yang berkelanjutan dari perguruan tinggi, sebagai salah satu aktor dalam pembentukan ketahanan kebencanaan akan terwujud,” kata Tria Patrianti dalam seminar nasional bertajuk “Strategi Komunikasi Krisis di Lingkungan Pendidikan dalam Menghadapi Bencana Alam” di Hotel Ambhara Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, mahasiswa bisa menjadi pemengaruh untuk menyebarkan informasi tentang manajemen kebencanaan dengan memanfaatkan saluran komunikasi digital yang relevan saat ini.
Perguruan tinggi punya peran nyata dalam membangun sistem ketahanan bencana, baik melalui riset, inovasi teknologi, edukasi masyarakat, maupun pemikiran strategis.
“Mereka (mahasiswa) juga diorientasikan menjadi future leader, tentu karena mereka akan memimpin dan menjadi inovasi bagi kolaborasi dan komunitas-komunitas yang tangguh di konteks kebencanaan,” ujar Tria Patrianti.
Ia mengungkapkan, komunikasi krisis di perguruan tinggi masih sangat lemah. Berdasarkan data riset dari BRIN, Kemendikbudristek, serta jurnal internasional bereputasi, lebih dari 60 persen perguruan tinggi belum memiliki strategi komunikasi tertulis, teruji, maupun yang adaptif terhadap krisis.
Bahkan fakta menunjukkan bahwa komunikasi krisis pada lebih dari 61 persen perguruan tinggi masih tergolong lemah. Hal ini lantaran pihak kampus cenderung baru merilis pernyataan atau pesan resmi secara mendadak saat krisis sedang melanda, seperti bencana banjir, tanah longsor, maupun cuaca ekstrem.
“Jadi, belum ada risk assessment, belum ada pesan-pesan risiko yang dikemas oleh perguruan tinggi sehingga memberikan ketangguhan pada civitas akademika,” jelasnya.
Sebagai solusi, disusulkan penyesuaian resilience framework ke dalam konteks komunikasi perguruan tinggi guna merespons serta menghadapi ancaman krisis iklim dan bencana secara terstruktur.
“Bahwa dari krisis iklim, kemudian harus ada tahapan assessment risiko, kemudian setelah itu ada strategi komunikasi, dari strategi komunikasi harus ada peningkatan awareness dari mahasiswa atau civitas akademika,” imbuhnya. (dan)


















