INDOPOSCO.ID – Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa keluhan yang awalnya saya anggap sederhana akan membawa saya pada perjalanan panjang menghadapi penyakit jantung.
Perkenalkan, nama saya J. Armanto. Pekerjaan saya jurnalis.
Di usia 50 tahun, saya harus menerima kenyataan bahwa ada masalah serius pada organ yang menjadi pusat kehidupan manusia.
Semuanya bermula dari rasa nyeri di dada kiri yang muncul ketika saya melakukan aktivitas fisik. Saat berjalan jauh, naik tangga, maupun berolahraga, terutama ketika tubuh membutuhkan tenaga lebih, dada kiri saya terasa tidak nyaman. Rasa sakit itu terkadang menjalar hingga ke gigi.
Saya masih ingat ketika sedang bersepeda. Saat melewati tanjakan, tiba-tiba gigi saya terasa nyeri bersamaan dengan munculnya rasa sakit di dada kiri. Karena mengira penyebabnya berasal dari gigi, saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter gigi.
Hasil pemeriksaan menunjukkan ada satu gigi geraham bawah yang berlubang. Gigi tersebut kemudian ditambal. Saya berharap setelah masalah gigi selesai, keluhan yang saya alami juga akan hilang.
Namun ternyata tidak demikian.
Setiap kali kembali berolahraga, rasa nyeri pada gigi dan dada kiri masih muncul. Dari situ saya mulai menyadari bahwa mungkin ada masalah lain yang perlu dicari tahu.
Saya kemudian memeriksakan diri ke dokter jantung di RS Sentra Medika Cisalak, Kota Depok, Jawa Barat. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk kateterisasi jantung, saya mendapatkan kabar yang cukup mengejutkan.
Dokter menyatakan bahwa saya mengalami jantung koroner. Dari hasil pemeriksaan diketahui terdapat sumbatan berat pada pembuluh darah jantung, tepatnya di bagian pertigaan arteri, dengan tingkat penyempitan sekitar 95 hingga 99 persen.
Karena posisi sumbatan berada di area yang cukup kompleks, pemasangan ring jantung bukan menjadi pilihan. Dokter menjelaskan bahwa tindakan yang paling tepat adalah operasi bypass jantung.
Mendengar kata operasi jantung tentu bukan sesuatu yang mudah. Ada rasa khawatir dan banyak pikiran yang muncul. Namun, saya berusaha menerima kondisi ini dengan tenang. Saya percaya bahwa keputusan terbaik harus diambil demi kesehatan dan masa depan saya.
Karena tindakan bypass tidak dapat dilakukan di RS Sentra Medika Cisalak, saya kemudian meminta rujukan ke RS Jantung Harapan Kita, Jakarta.
Pada Senin pagi, 27 Januari 2025, saya datang ke RS Jantung Harapan Kita untuk menjalani persiapan sebelum operasi. Sehari kemudian, Selasa, 28 Januari 2025 pukul 09.00, saya memasuki ruang operasi untuk menjalani bypass jantung.
Proses operasi berlangsung sekitar tiga jam. Namun, karena saya harus menjalani pembiusan total, saya berada dalam kondisi tidak sadar selama kurang lebih 12 jam.
Hal yang menarik, menjelang operasi saya justru merasa cukup tenang. Saya tidak merasa terlalu tegang. Di ruang operasi, saya mencoba menikmati setiap momen yang ada.
Sebelum dokter memberikan bius total, saya sempat meminta agar diputar sebuah lagu dari film Wonka (2023), film yang menceritakan perjalanan Willy Wonka membangun impiannya mendirikan pabrik cokelat.
Lagu yang menemani detik-detik sebelum saya tertidur adalah “For a Moment”, yang dinyanyikan oleh artis Calah Lane dan aktor Timothée Chalamet.
Saya masih ingat lagu itu mulai terdengar. Namun, di tengah lagu, suasana perlahan berubah menjadi hening. Obat bius yang disuntikkan ke tubuh saya mulai bekerja. Setelah itu, saya tidak lagi mengetahui apa yang terjadi.
Saya baru kembali sadar ketika hari sudah malam. Saya mendengar suara para perawat yang sedang berbincang. Saya sempat mendengar bahwa malam itu hujan turun. Apalagi, keesokan harinya adalah perayaan Imlek.
Saat itu saya belum bisa berbicara. Ada selang medis yang masih terpasang di mulut saya. Saya hanya bisa mendengar suara orang-orang di sekitar tanpa mampu memberikan respons.
Meski begitu, dalam hati saya merasa sangat bersyukur. Operasi telah berjalan dengan lancar.
Setelah operasi, saya menjalani perawatan di ruang ICU selama sekitar 24 jam. Beberapa alat medis dan selang masih terpasang untuk membantu pemantauan kondisi tubuh saya.
Setelah keadaan mulai stabil, saya dipindahkan ke ruang Intermediate 1. Perlahan kondisi saya membaik. Memasuki hari ketiga, saya mulai dirawat di ruang perawatan biasa. Satu per satu alat yang sebelumnya terpasang mulai dilepas oleh dokter dan perawat.
Akhirnya, setelah melewati rangkaian perawatan, saya diperbolehkan pulang pada Sabtu sore, 1 Februari 2025. Total waktu saya menjalani perawatan di rumah sakit adalah enam hari, sejak 27 Januari hingga 1 Februari 2025.
Dari perjalanan ini, saya semakin memahami pentingnya perlindungan kesehatan. Saya sangat bersyukur karena seluruh proses pengobatan, mulai dari pemeriksaan di RS Sentra Medika Cisalak hingga operasi dan perawatan di RS Jantung Harapan Kita, dapat berjalan dengan baik dengan dukungan asuransi.
Ketika saya harus terbaring di ruang operasi, saya merasa lebih tenang karena ada jaminan yang membantu memastikan seluruh proses medis berjalan dengan aman dan nyaman.
Saya mengucapkan terima kasih kepada para dokter, perawat, seluruh tenaga kesehatan, pihak rumah sakit, keluarga, dan khususnya pihak asuransi yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan saya menghadapi kondisi ini.
Pengalaman menjalani operasi bypass jantung memberikan pelajaran besar bagi saya. Tubuh sebenarnya selalu memberikan tanda, hanya terkadang kita terlambat menyadarinya.
Nyeri dada yang awalnya saya kira hanya masalah gigi ternyata menjadi peringatan penting dari tubuh saya.
Kini saya melihat hidup dengan cara yang berbeda. Operasi bypass jantung bukan hanya sebuah tindakan medis, tetapi juga sebuah kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan lebih sehat, lebih bersyukur, dan lebih menghargai setiap waktu yang diberikan.
Sebelumnya, kenaikan biaya layanan kesehatan atau inflasi medis menjadi salah satu tantangan yang semakin mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, tingkat inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026. Angka tersebut berada di atas rata-rata Asia yang diperkirakan sebesar 12,5 persen. Dalam sebuah diskusi yang digelar Allianz Indonesia secara online bertajuk “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis” pada Rabu (17/6/2026), Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, menyampaikan bahwa kenaikan biaya medis menjadi tantangan yang dihadapi berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan, termasuk industri asuransi.
Menurutnya, selain dipengaruhi oleh inflasi dan perkembangan teknologi medis, biaya kesehatan juga terdampak oleh faktor ekonomi makro.
“Ketergantungan terhadap bahan baku obat dan alat kesehatan impor membuat perubahan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi biaya layanan kesehatan di dalam negeri,” jelasnya.
Data Allianz Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan sejumlah penyakit kritis mengalami peningkatan dalam periode 2020 hingga 2025. Biaya perawatan penyakit jantung tercatat meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.
Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah membayarkan klaim dan manfaat senilai Rp6,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,7 triliun merupakan klaim kesehatan.
Rina mengatakan bahwa meningkatnya biaya layanan kesehatan menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan perlindungan kesehatan di masa depan.
“Berbagai penyesuaian yang dilakukan di industri asuransi bertujuan untuk menjaga kecukupan manfaat dan memastikan akses peserta terhadap layanan kesehatan tetap tersedia,” katanya.
Ia juga menilai perlindungan kesehatan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Pasalnya, dampak penyakit kritis tidak hanya mencakup biaya perawatan saat menjalani rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta kebutuhan medis lainnya yang dapat berlangsung dalam jangka waktu panjang. (aro)


















