INDOPOSCO.ID – Tren pemilihan kawasan industri di Indonesia mengalami perubahan. Jika sebelumnya investor lebih fokus pada harga lahan dan ketersediaan ruang produksi, kini mereka semakin mempertimbangkan kualitas ekosistem industri, mulai dari konektivitas logistik, akses rantai pasok (supply chain), ketersediaan utilitas, hingga dukungan layanan investasi.
Perubahan tersebut sejalan dengan masuknya gelombang investasi baru dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), elektronik, pusat data (data centre), hingga manufaktur berorientasi ekspor yang membutuhkan infrastruktur dan jaringan logistik yang semakin terintegrasi.
Chief Commercial Officer PT Suryacipta Swadaya, Abednego Purnomo, mengatakan perubahan preferensi investor mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam lanskap industri nasional.
“Dalam beberapa tahun terakhir kami melihat perubahan yang cukup signifikan. Investor tidak lagi hanya mengevaluasi biaya lahan atau kecepatan pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana sebuah kawasan dapat mendukung efisiensi supply chain dan keberlangsungan operasional mereka dalam jangka panjang,” ujar Abednego.
Menurutnya, investor kini memberikan perhatian lebih terhadap berbagai aspek yang sebelumnya bukan menjadi pertimbangan utama, seperti akses menuju pelabuhan, konektivitas dengan jaringan transportasi nasional, keandalan utilitas, serta keberadaan fasilitas pendukung yang mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Suryacipta juga mencatat peningkatan minat dari investor asing maupun domestik terhadap kawasan industri yang memiliki dukungan infrastruktur strategis. Permintaan datang dari berbagai negara, terutama Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, serta Jepang.
Sementara itu, sektor yang mendominasi permintaan berasal dari industri otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV) dan komponen otomotif. Selain itu, terdapat peningkatan minat dari sektor alat berat (heavy machinery), elektronik, pusat data (data centre), hingga pergudangan.
Tidak hanya mencari lokasi untuk membangun fasilitas produksi, investor kini juga mulai mempertimbangkan kualitas pengembangan kawasan serta ekosistem bisnis yang ditawarkan, termasuk layanan investasi yang dapat mendukung proses ekspansi perusahaan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat mendirikan pabrik, tetapi telah menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Abednego menilai tren tersebut akan mengubah peta persaingan industri kawasan di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
“Ke depan, daya saing kawasan industri akan semakin ditentukan oleh kualitas ekosistem yang dimiliki. Kawasan yang mampu mengintegrasikan kebutuhan industri, logistik, dan pengembangan bisnis akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menarik investasi baru,” tutupnya.
PT Suryacipta Swadaya merupakan pengembang dan pengelola kawasan industri Suryacipta City of Industry di Karawang serta kota mandiri terintegrasi Subang Smartpolitan di Subang, Jawa Barat. Perusahaan yang berdiri sejak 1990 sebagai bagian dari PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) tersebut berkomitmen mendukung pertumbuhan industri nasional melalui pengembangan kawasan industri yang terintegrasi dengan infrastruktur, konektivitas logistik, dan layanan investasi.(ibs)


















