INDOPOSCO.ID – Kolom komentar media sosial belakangan ini makin “berisik”. Bukan dipenuhi diskusi warganet, melainkan dibanjiri akun-akun spam yang mempromosikan judi online (judol). Modusnya pun nyaris sama, menggunakan foto profil perempuan, menyisipkan tautan menuju situs judi, lalu menyebarkannya secara massal di unggahan yang sedang viral.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha menilai fenomena tersebut bukan sekadar gangguan biasa. Menurutnya, aksi itu merupakan pola serangan siber yang memanfaatkan celah moderasi di platform media sosial.
Di sisi lain, menurut Pratama, maraknya promosi melalui kolom komentar justru menunjukkan bahwa upaya pemerintah menekan ekosistem judi online mulai memberikan dampak. Ketika akses ke situs utama semakin banyak diblokir dan ruang promosi resmi semakin sempit, para pelaku beralih menggunakan media sosial sebagai jalur alternatif.
“Artinya strategi penindakan mulai mempersulit operasional mereka sehingga metode promosi pun terus berubah untuk menghindari pengawasan,” ujar Pratama dalam keterangan, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, modus tersebut dikenal sebagai comment spam farming. Pelaku menggunakan bot atau akun bayangan yang dikendalikan secara terpusat untuk menyebarkan tautan secara otomatis ke ribuan unggahan. Sasaran mereka bukan hanya pencari judi online, tetapi seluruh pengguna media sosial dengan harapan ada yang tergoda mengklik tautan tersebut.
Tak hanya itu, lanjut dia, pelaku juga semakin lihai menyamarkan identitas. Mereka memanfaatkan akun yang terlihat meyakinkan dan menggunakan domain sementara yang terus berganti agar lolos dari pemblokiran.
Menurut Pratama, dari sisi regulasi pemerintah sebenarnya sudah bergerak. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menerbitkan aturan dan mendorong platform media sosial memperketat moderasi konten perjudian. Namun, implementasinya dinilai belum maksimal.
“Regulasi sudah ada, Komdigi sudah mendorong. Tapi kalau platformnya tidak menjalankan dengan serius, mau bagaimana lagi. Mereka yang memegang kendali penuh atas sistem moderasi mereka,” tegasnya.
Ia menilai platform sebenarnya memiliki kemampuan mendeteksi ribuan komentar identik yang muncul dalam waktu singkat, mengenali akun yang dibuat secara massal, hingga mengidentifikasi jaringan bot yang saling berkoordinasi. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan platform perlu diperkuat, termasuk melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan secara otomatis.
Selain platform, pemilik akun dengan jumlah pengikut besar juga diminta lebih aktif menjaga kolom komentarnya. Fitur filter kata kunci dan pemblokiran akun sebenarnya sudah tersedia di hampir semua platform media sosial.
“Pemilik akun besar sebenarnya punya kendali. Filter kata kunci sudah disediakan platform, tinggal digunakan. Kalau masih ada spam judol di kolom komentar mereka, artinya fitur itu belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.(nas)


















