INDOPOSCO.ID – Di tengah tekanan global terhadap industri kelapa sawit, Indonesia mengambil peran sentral dengan menjadi tuan rumah The 31st Senior Officials Meeting (SOM) of the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) di Jakarta. Forum ini menjadi ajang penting bagi negara-negara produsen sawit untuk menyatukan langkah menghadapi tantangan perdagangan, keberlanjutan, hingga regulasi internasional yang kian kompleks.
Pertemuan yang berlangsung secara hybrid tersebut dihadiri delegasi dari Indonesia, Malaysia, Honduras, Republik Demokratik Kongo, dan Papua Nugini sebagai anggota CPOPC. Sejumlah negara pengamat seperti Ghana, Kolombia, dan Nigeria turut mengikuti jalannya pembahasan bersama Sekretariat CPOPC serta perwakilan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Delegasi Indonesia melibatkan unsur lintas kementerian, mulai dari Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, hingga Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, yang hadir sebagai bagian dari delegasi Indonesia menegaskan pentingnya solidaritas antarnegara produsen sawit di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Sebagai salah satu negara pendiri CPOPC sekaligus produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memandang penguatan kerja sama antarnegara produsen sebagai langkah penting dalam menjaga ketahanan industri sawit global, memperkuat daya saing, serta mendorong praktik pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan dan inklusif,” kata Eddy dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).
Dalam forum SOM ke-31 ini, para delegasi membahas berbagai agenda strategis, mulai dari tindak lanjut program kerja CPOPC, penguatan riset dan komunikasi publik, pemberdayaan petani sawit, hingga koordinasi menghadapi isu perdagangan internasional. Salah satu topik yang paling banyak mendapat perhatian adalah implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang dinilai akan berdampak besar terhadap rantai pasok minyak sawit global.
Tak hanya itu, pertemuan juga menyoroti situasi ekonomi dunia pada 2026 yang dibayangi perubahan iklim, fluktuasi permintaan pasar, serta volatilitas harga minyak nabati. Kondisi tersebut membuat CPOPC dipandang semakin penting sebagai wadah koordinasi dan dialog bagi negara-negara produsen untuk merumuskan respons bersama.
Indonesia dalam forum ini turut mendorong terbentuknya posisi kolektif negara anggota CPOPC guna memperjuangkan tata kelola perdagangan minyak sawit yang lebih adil, transparan, dan berbasis bukti ilmiah.
“Sinergi antarnegara produsen diharapkan dapat memperkuat penerimaan minyak sawit di pasar global sekaligus menjaga kontribusinya terhadap ketahanan energi, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan petani,” tambah Eddy.
BPDP sendiri menegaskan komitmennya mendukung pengembangan industri sawit nasional melalui berbagai program strategis, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset dan inovasi, promosi, serta pengembangan biodiesel. Program-program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah, daya saing, sekaligus keberlanjutan sektor sawit Indonesia.
Melalui penyelenggaraan SOM CPOPC ke-31 di Jakarta, Indonesia berharap lahir rekomendasi dan kesepakatan strategis yang mampu memperkuat koordinasi antarnegara produsen dalam menghadapi dinamika global. Hasil pertemuan ini juga diharapkan menjadi fondasi kerja sama yang lebih kuat demi mewujudkan industri minyak sawit yang berkelanjutan, kompetitif, dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta lingkungan bagi negara-negara produsen. (her)


















