INDOPOSCO.ID – Pemerintah masih menelusuri penyebab munculnya isu sekitar 60 ribu calon mahasiswa yang disebut mengundurkan diri setelah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan belum ingin mengambil kesimpulan sebelum memperoleh data yang valid. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat mengatakan pemerintah akan mengumpulkan informasi secara menyeluruh agar penyebab persoalan tersebut dapat dipetakan dengan tepat.
Menurutnya, setiap kasus perlu dilihat berdasarkan data di lapangan.
“Kami akan lihat satu per satu berdasarkan datanya. Karena itu kami akan menggelar rapat koordinasi lintas sektor bersama Kemendiktisaintek dan pihak terkait lainnya,” ujar Ojat ditemui indoposco.id di sela Seminar Wisuda Universitas Terbuka (UT), Senin (29/6/2026).
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin persoalan ekonomi maupun besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi penghalang bagi siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurut Ojat, negara berkomitmen memastikan mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tetap memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi meski menghadapi keterbatasan finansial.
Selain itu, Ojat mengajak calon mahasiswa mempertimbangkan kampus yang menawarkan biaya pendidikan lebih terjangkau dan sistem pembelajaran yang fleksibel, seperti Universitas Terbuka.
Di tempat yang sama, Rektor Universitas Terbuka Prof Ali Muktiyanto menilai persoalan akses pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan SNBP. Setiap tahun, sekitar 1,2 hingga 1,3 juta lulusan SMA belum berhasil melanjutkan kuliah karena terbatasnya daya tampung, ketatnya persaingan, pilihan program studi yang kurang tepat, hingga kendala biaya.
Ali menjelaskan sistem pembelajaran di UT memungkinkan mahasiswa menunda perkuliahan tanpa harus mengundurkan diri apabila sedang mengalami kesulitan ekonomi.
“Di UT tidak ada istilah mengundurkan diri karena tidak mampu membayar. Mahasiswa bisa menunda kuliah semester berikutnya, karena sistemnya sangat fleksibel,” ujarnya. (nas)


















