INDOPOSCO.ID – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menjadi strategi baru dalam memperkuat sistem keimigrasian di kawasan ASEAN dan Australia. Teknologi tersebut akan dimanfaatkan untuk memodernisasi layanan imigrasi sekaligus meningkatkan kemampuan penyaringan di pintu-pintu perbatasan.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam The 21st DGICM + Australia Consultation yang berlangsung di Siem Reap, Kamboja. Singapura dan Australia mengusulkan area kerja sama baru melalui pemanfaatan data dan AI guna menjawab tantangan keamanan perbatasan yang semakin kompleks.
Forum yang merupakan bagian dari rangkaian The 29th DGICM and Its Related Meetings itu dipimpin bersama Direktur Jenderal Imigrasi Indonesia Hendarsam Marantoko dan First Assistant Secretary (Immigration) Department of Home Affairs Australia, Damien Kilner.
Selain membahas transformasi digital, pertemuan juga menyoroti meningkatnya ancaman migrasi tidak teratur, perdagangan orang, penyelundupan manusia, hingga maraknya penipuan daring (online scam) yang memerlukan koordinasi lintas negara. Hendarsam menegaskan, kerja sama ASEAN dan Australia harus terus diperkuat agar mampu merespons dinamika keamanan kawasan.
“Forum ini kita harapkan dapat menjadi arah baru kemitraan ASEAN-Australia yang lebih solid dalam merespons dinamika perbatasan. Dengan membangun kepercayaan mutual dan keterbukaan informasi, kita sedang menyusun standardisasi operasional yang lebih tangguh di lini depan keimigrasian dan perbatasan,” ujar Hendarsam dalam keterangan, Sabtu (27/6/2026).
Dalam forum tersebut juga dibahas peningkatan fasilitasi perbatasan. Saat ini warga negara Indonesia (WNI) dan Brunei Darussalam telah memperoleh akses fasilitas SmartGate di Australia.
Pertemuan menghasilkan kesepakatan melanjutkan ASEAN-Australia Programme of Work periode 2026–2027 yang difokuskan pada penguatan kapasitas kawasan menghadapi berbagai ancaman kejahatan transnasional.
Menurut Hendarsam, program tersebut sangat relevan untuk menghadapi perubahan pola migrasi, mobilitas tenaga kerja, penyelundupan manusia, perdagangan orang, hingga penyalahgunaan jalur keimigrasian.
“Kerja sama ASEAN-Australia penting untuk memperkuat kapasitas dan ketahanan kawasan dalam menghadapi perubahan pola migrasi, mobilitas tenaga kerja, kejahatan transnasional, penyelundupan manusia, perdagangan orang, dan penyalahgunaan kanal keimigrasian,” katanya.
Indonesia juga akan menyelenggarakan Cyber Resilience Programme pada Agustus 2026 dengan pendekatan train-the-trainer guna meningkatkan kesiapan petugas menghadapi ancaman kejahatan siber yang terhubung dengan jaringan transnasional.
Di akhir pertemuan, Indonesia menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah The 22nd DGICM + Australia Consultation di Bali pada 2027. Forum tersebut akan dimanfaatkan untuk mendorong penguatan pertukaran informasi yang aman, interoperabilitas data keimigrasian, ketahanan siber, pemanfaatan AI, perlindungan pekerja migran, serta kerja sama operasional melawan online scam dan kejahatan transnasional. (nas)


















