INDOPOSCO.ID – Kementerian Agama (Kemenag) bersama sejumlah mitra filantropi berhasil menghimpun dan menyalurkan bantuan senilai Rp23,5 miliar bagi anak yatim dan penyandang disabilitas dalam peringatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 Hijriah.
Program ini menjadi bukti kuatnya kolaborasi pemerintah, lembaga zakat, lembaga wakaf, perbankan syariah, dunia usaha, dan organisasi filantropi dalam memperluas jangkauan bantuan sosial.
Berdasarkan data panitia, program tersebut telah menjangkau 50.113 anak yatim dan 2.488 penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Total bantuan yang tersalurkan mencapai Rp23.554.782.009.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, momentum 10 Muharam harus dimaknai sebagai hari pembebasan bagi anak yatim dan kelompok rentan dari berbagai kesulitan hidup.
“Marilah kita jadikan 10 Muharam ini sebagai hari pembebasan bagi kelompok anak yatim dan kelompok yang membutuhkan perhatian. Kita bebaskan mereka dari berbagai kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan yang mereka alami,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut Menag, kepedulian terhadap anak yatim dan penyandang disabilitas tidak cukup diwujudkan melalui bantuan sesaat. Yang lebih penting adalah membuka akses pendidikan, pengembangan kapasitas, dan kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Lebaran Yatim sebagai tradisi sosial yang terus tumbuh di Indonesia. Menurutnya, semangat berbagi dan kepedulian dapat memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.
“Kalau kita menjadi orang yang lapang dada, maka seluruh dendam akan terkubur, seluruh sakit hati akan terobati, dan berbagai persoalan dapat diselesaikan. Itulah makna lebaran yang sesungguhnya,” katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan peringatan tahun ini dirancang bukan sekadar kegiatan santunan, melainkan ekosistem pemberdayaan bagi anak yatim dan penyandang disabilitas.
Menurutnya, anak-anak ditempatkan sebagai subjek kegiatan yang diberi ruang untuk belajar, menunjukkan bakat, mengembangkan keterampilan, hingga memamerkan karya mereka kepada publik.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang lebih luas bagi anak yatim dan penyandang disabilitas untuk mengekspresikan potensi terbaik mereka. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian penting dari pembangunan sosial keagamaan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan dikemas melalui lima zona festival yang saling terintegrasi, yakni Zona Tumbuh untuk edukasi, Zona Berdaya untuk pengembangan kapasitas dan soft skill, Barokah Market sebagai etalase produk pemberdayaan, Zona Ekspresi untuk kreativitas dan seni, serta Zona Cahaya yang menjadi area pelelangan karya anak-anak binaan.
Sebanyak 14 lembaga tingkat pusat terlibat dalam kegiatan tersebut. Acara juga dihadiri langsung oleh 395 anak yatim dan 55 penyandang disabilitas, serta dilaksanakan secara nasional melalui partisipasi 34 Kantor Wilayah Kementerian Agama dan ratusan kabupaten/kota.
Abu menegaskan, keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang bergerak bersama menghadirkan manfaat lebih luas bagi anak-anak.
“Kekuatan utama program ini adalah kolaborasi. Ketika pemerintah, lembaga zakat, lembaga wakaf, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama, manfaat yang dirasakan anak-anak menjadi jauh lebih besar,” tuturnya.
Dari seluruh provinsi, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan nilai penyaluran bantuan terbesar, yakni Rp7,57 miliar. Sementara itu, Rumah Zakat tercatat sebagai lembaga dengan kontribusi pendistribusian bantuan terbesar dalam program kolaborasi tersebut. (nas)

















