INDOPOSCO.ID – Presiden Prabowo Subianto mpenegaskan bahwa orientasi utama pemerintah dan seluruh pemimpin bangsa seharusnya adalah menghadirkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat. Baginya, ukuran keberhasilan bukan sekadar pencapaian politik, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat.
Berbicara dalam Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Prabowo menyampaikan bahwa prinsip tersebut telah menjadi pegangan yang terus ia bawa selama puluhan tahun.
“Yang penting, apakah kita sudah berbuat yang terbaik untuk bangsa, rakyat, dan saudara-saudara kita. Saya kira itu yang terpenting,” ucap Prabowo.
Menurutnya, cita-cita kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada lepasnya bangsa dari penjajahan, melainkan harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas hidup seluruh masyarakat. Karena itu, arah pembangunan ekonomi harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengenang pengalamannya saat memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia menilai, pada masa itu berkembang pandangan ekonomi yang terlalu mengandalkan mekanisme pasar sebagai solusi utama atas berbagai persoalan nasional.
“Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara. Tidak mengerti apa arti bernegara. Tidak mengerti kenapa kita mau merdeka,” jelas Prabowo.
Ia menekankan bahwa keberadaan negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap warga memperoleh hak-hak dasar, termasuk pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang memadai. Tanpa itu, menurutnya, makna kemerdekaan menjadi tidak utuh.
“Itu tujuan kita merdeka. Kita bukan merdeka hanya sekedar untuk merdeka. Untuk apa kita punya DPR? Untuk apa kita punya DPD? Untuk apa kita nyanyi lagu kebangsaan? Kalau rakyat kita tidak sejahtera,” tutur Prabowo.
Prabowo juga mengungkapkan alasan yang membuatnya terus bertahan di dunia politik meski pernah mengalami kekalahan dalam berbagai kontestasi. Ia menyebut perjuangannya didorong oleh keyakinan bahwa rakyat kecil harus memperoleh perhatian dan penguatan yang lebih besar dari para pemimpin bangsa.
“Karena itulah saya bertekad, saya berjuang. Saya terus di politik. Kalah, saya maju lagi. Kalah, maju lagi. Karena saya melihat belum ada usaha besar dari elit Indonesia untuk memperkuat rakyat Indonesia dari bawah,” tambahnya. (her)

















