INDOPOSCO.ID – Dua raksasa di sektor teknologi keuangan dan pasar modal, Intercontinental Exchange (ICE) dan OKX, resmi mengumumkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture) yang berfokus pada pengembangan infrastruktur baru bagi aset digital bertokenisasi dan berbagai produk keuangan yang sejak awal dirancang berbasis teknologi blockchain.
Kolaborasi dengan komposisi kepemilikan 50:50 tersebut dirancang untuk menjembatani dunia keuangan konvensional dengan ekosistem aset digital. Setelah memperoleh persetujuan regulator terkait, entitas baru itu ditargetkan beroperasi sebagai broker-dealer sekaligus futures commission merchant (FCM) yang terdaftar di Amerika Serikat.
Melalui langkah tersebut, pelanggan OKX di dalam maupun luar Amerika Serikat nantinya diharapkan dapat memperoleh akses menuju pasar berjangka milik ICE serta perdagangan ekuitas New York Stock Exchange (NYSE) yang telah ditokenisasi dalam ekosistem berbasis blockchain.
Tak hanya itu, kedua perusahaan juga berencana mengeksplorasi berbagai peluang lain di bidang pasar keuangan digital yang tetap mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi.
Joint venture ini akan dipimpin bersama oleh ICE dan Andrew M. Cuomo. Mantan Gubernur New York tersebut telah bekerja sama dengan OKX sejak 2023 dan kini dipercaya ikut mengarahkan strategi pengembangan proyek tersebut.
Dalam keterangannya, Cuomo menilai sinergi antara inovasi teknologi dan kepastian regulasi menjadi faktor penting bagi masa depan industri keuangan.
“Babak berikutnya dari pasar keuangan akan ditentukan oleh seberapa baik inovasi dan regulasi pemerintah dapat bergerak maju bersama,” katanya.
Andrew juga menyoroti potensi sosial dari penerapan blockchain yang dinilai mampu memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
“Kemitraan ini menyatukan teknologi blockchain kelas dunia milik OKX dengan infrastruktur pasar tepercaya milik ICE untuk membantu membangun sistem keuangan yang lebih modern, transparan, dan tangguh bagi masa depan. Secara pribadi, saya antusias dengan prospek dampak sosial yang dapat dihadirkan teknologi blockchain: demokratisasi keuangan, yang membawa layanan keuangan dasar kepada masyarakat yang selama ini kurang terlayani,” tambahnya.
Dari pihak ICE, Senior Vice President Futures Exchanges, Trabue Bland, menyebut kolaborasi tersebut sebagai fondasi bagi pembangunan infrastruktur yang akan memengaruhi cara pasar global beroperasi di masa depan.
“Tolok ukur global dan teknologi pasar teregulasi milik ICE telah memperoleh kepercayaan dari institusi dan trader di seluruh dunia. Kini, melalui kemitraan kami dengan OKX, kami berupaya memperluas jangkauan tersebut kepada 120 juta trader ritel OKX,” tuturnya.
Pembentukan joint venture ini juga menjadi kelanjutan dari hubungan strategis yang telah terjalin sebelumnya. Pada Maret 2026, ICE diketahui melakukan investasi minoritas senilai sekitar 200 juta dolar AS di OKX dengan valuasi perusahaan yang diperkirakan mencapai USD25 miliar. Kesepakatan tersebut turut membuka peluang kolaborasi komersial, termasuk distribusi ekuitas yang telah ditokenisasi melalui platform OKX.
Sebelum mengumumkan perusahaan patungan tersebut, kedua pihak juga telah memperkenalkan kontrak berjangka abadi (perpetual futures) berbasis kripto untuk komoditas minyak yang ditujukan bagi pengguna di luar Amerika Serikat.
Menurut Cuomo, pengembangan produk berjangka minyak kini dilanjutkan di bawah payung joint venture baru, dengan fokus awal pada penyelesaian proses perizinan sebagai futures commission merchant dan registrasi broker-dealer.
Ia menggambarkan visi jangka panjang proyek tersebut sebagai upaya menghadirkan akses pasar modal yang lebih mudah melalui teknologi digital.
“Anda secara virtual dapat melangkah masuk melalui pintu depan New York Stock Exchange melalui ponsel pintar Anda, dan Anda dapat melakukannya tujuh hari seminggu dengan cara yang sebelumnya tidak pernah mungkin dilakukan,” paparnya.
Cuomo juga menepis anggapan inisiatif tersebut semata-mata berkaitan dengan aset kripto. Menurutnya, perhatian utama justru tertuju pada pemanfaatan teknologi blockchain di berbagai instrumen keuangan.
“Ini bukan tentang kripto. Ini tentang blockchain dan teknologi finansial, serta penerapan blockchain pada kelas aset lainnya,” ucapnya.
Secara keseluruhan, perusahaan patungan ICE dan OKX diarahkan untuk membuka akses pelanggan terhadap pasar berjangka ICE dan ekuitas NYSE yang ditokenisasi, menghadirkan representasi digital aset-aset tradisional di jaringan blockchain yang patuh regulasi, serta mengembangkan berbagai instrumen keuangan baru termasuk produk berbasis komoditas guna mempercepat transformasi pasar modal menuju era digital. (rmn)

















