INDOPOSCO.ID – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari keluarga. Karena itu, peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) menjadi sangat penting dalam mendampingi keluarga Indonesia guna mencegah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Silaturahmi dalam rangka Penguatan Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) di Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (17/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri 401 kader TPK, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana, Ketua DPRD Banjarnegara Slamet, S.M., serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Dan dimulai dari pendamping-pendamping keluarga. Saya bisa bertemu para pahlawan-pahlawan keluarga yang setiap hari mendampingi calon pengantin, ibu hamil, balita, remaja, hingga lansia,” ujar Menteri Wihaji.
Menurut Menteri Wihaji, TPK memiliki peran strategis karena menjadi garda terdepan yang mendampingi keluarga pada berbagai fase kehidupan, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, balita, remaja, hingga lansia. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana mengapresiasi kontribusi para kader TPK yang selama ini turut membantu pemerintah daerah dalam upaya percepatan penurunan stunting. “Tim Pendamping Keluarga Banjarnegara adalah kader-kader terbaik dan sangat membantu pemerintah kabupaten dalam hal stunting,” ujarnya.
Menteri Wihaji juga menyoroti prevalensi stunting di Kabupaten Banjarnegara yang masih berada pada angka 20,9 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen. Ia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, terutama melalui pendampingan yang dilakukan secara langsung kepada keluarga sasaran.
Menurut Menteri Wihaji, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti pernikahan dini, kurangnya asupan gizi, sanitasi yang belum memadai, serta rendahnya edukasi pola asuh. Karena itu, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat Program Bangga Kencana yang berfokus pada upaya pencegahan sejak sebelum kelahiran.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Wihaji juga menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mencegah stunting. Melalui dukungan Tim Pendamping Keluarga, program tersebut diharapkan dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat sekaligus memperkuat pembangunan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.(ney)

















