INDOPOSCO.ID – Penataan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah dilakukan pemerintah untuk memastikan penerima program ini semakin tepat sasaran. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mendukung langkah tersebut khususnya bagi kelompok 3B yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd dalam Rapat Koordinasi Terbatas Tingkat Menteri terkait penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan sejumlah kementerian dan Lembaga pada kamis (11/6/2026).
“Hari ini kelompok 3B yang menerima manfaat sudah mencapai 9,9 juta jiwa, terdiri dari 911 ribu ibu hamil, 2,2 juta ibu menyusui, dan sekitar 6 juta balita. Ini merupakan capaian penting dalam upaya memperkuat intervensi gizi bagi kelompok yang paling membutuhkan,” ujar Wihaji saat melaporkan perkembangan penerima Manfaat MBG untuk kelompok 3B.
Menurutnya peningkatan cakupan penerima manfaat tersebut tidak terlepas dari dukungan lebih dari 122 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang membantu distribusi MBG secara langsung kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita hingga ke rumah-rumah penerima manfaat.
Selain penataan penerima manfaat, Kemendukbangga/BKKBN juga mendorong penataan layanan MBG di wilayah 3T. Untuk menjawab tantangan distribusi di wilayah tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menawarkan pemanfaatan program DAHSAT (Dapur Anak Sehat Atasi Stunting) sebagai alternatif model layanan.
“Yang terakhir, sebenarnya ini untuk 3T saya kira. Dulu kita berdiskusi sering. Solusi untuk 3T dengan skema lain. Kita punya namanya DAHSAT atau Dapur Anak Sehat Atasi Stunting,” kata Wihaji.
Pemanfaatan DAHSAT dinilai dapat menjadi alternatif model penyediaan makanan bergizi berbasis masyarakat yang telah berjalan di berbagai daerah dan dapat mendukung pelaksanaan MBG di wilayah dengan keterbatasan akses maupun infrastruktur agar kelompok yang paling membutuhkan mendapatkan manfaat secara optimal. Terutama ibu hamil, ibu menyusui, balita, yang tinggal di wilayah 3T.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, juga menjelaskan bahwa BGN tengah melakukan penataan dan refocusing Program MBG agar lebih tepat sasaran dengan memprioritaskan kelompok 3B dan wilayah 3T. Nanik menjelaskan bahwa kelompok 3B menjadi prioritas karena intervensi gizi paling efektif dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia sekolah dasar.
“Sebetulnya saya sudah diskusi dengan profesor-profesor hal itu, sebetulnya intervensi kita ini adalah di usia kandungan satu bulan hingga 9 tahun atau sampai SD lah dulu, jadi anak-anak ini kalau yang misalnya IQ-nya di bawah 100 itu bisa dinaikkan 100 ternyata dengan hanya setiap hari memberi satu telur. Jadi kita akan fokus di usia itu. Yang kedua adalah fokus ke daerah-daerah miskin 3T. Jadi 63 juta penerima manfaat ini berkualitas, benar-benar untuk 3B, benar-benar untuk 3T,” tegas Nanik.
Selain melakukan refocusing penerima manfaat, BGN juga mendorong pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia di masyarakat untuk mempercepat perluasan layanan MBG di daerah-daerah yang masih tertinggal. Menurut Nanik, pendekatan kolaboratif dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia dan dukungan dari berbagai pihak akan mempercepat perluasan layanan MBG tanpa sepenuhnya bergantung pada pembangunan infrastruktur baru melalui APBN.(ney)










