INDOPOSCO.ID – Nama Soeharto selama ini hampir selalu hadir dalam perdebatan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Sebagian melihatnya sebagai arsitek stabilitas nasional, sebagian lain mengingatnya melalui kontroversi panjang yang mengiringi era Orde Baru. Namun dalam buku terbarunya, wartawan senior Bambang Wiwoho memilih jalan yang berbeda untuk membaca sosok Presiden Ke-2 RI tersebut.
Bertepatan dengan peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto, Senin (8/6/2026), Wiwoho meluncurkan buku berjudul “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen” dalam acara Peluncuran Buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional di Jakarta.
Alih-alih mengupas strategi politik atau capaian pembangunan, buku ini mengajak pembaca memasuki ruang yang lebih sunyi, yakni dunia batin Soeharto.
“Selama ini Pak Harto lebih banyak dibaca dari sisi politik, ekonomi, dan kekuasaan. Padahal ada dimensi lain yang turut membentuk cara pandang, keteguhan sikap, dan ketenangannya dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa,” ujar Wiwoho.
Dalam buku tersebut, Soeharto tidak pertama-tama hadir sebagai kepala negara yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Ia ditampilkan sebagai manusia Jawa yang menjalani laku spiritual, percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui kecakapan politik dan strategi, tetapi juga melalui pengendalian diri, pengolahan batin, serta kemampuan membaca tanda-tanda zaman.
Wiwoho menuturkan, berbagai kisah tentang semadi, guru spiritual, tempat-tempat keramat, hingga perjalanan batin Soeharto selama ini lebih sering beredar sebagai cerita dari mulut ke mulut. Sebagian diterima sebagai fakta budaya, sebagian lain dianggap sekadar mitos yang dipelihara oleh kekuasaan.
“Saya berusaha menempatkan semua itu bukan sebagai sensasi, melainkan sebagai bagian dari lanskap kebudayaan yang membentuk cara seorang pemimpin memandang dunia,” kata Wiwoho.
Lebih jauh, buku ini sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai Soeharto. Tokoh besar yang hadir di dalamnya justru Kejawen itu sendiri. Melalui perjalanan hidup Soeharto, pembaca diajak memahami cara pandang yang telah berabad-abad memengaruhi budaya politik Jawa.
Di dalamnya terdapat keyakinan bahwa kekuasaan harus berjalan selaras dengan harmoni semesta, bahwa seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya sebelum mengendalikan orang lain, serta bahwa keberhasilan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami momentum dan waktu yang tepat.
Karena itu, Wiwoho mengangkat sejumlah konsep penting dalam tradisi Jawa seperti wahyu kekuasaan, kebatinan, hingga angon wayah—kemampuan membaca dan memahami zamannya sendiri.
“Dalam pandangan Jawa, seorang pemimpin tidak sekadar hadir karena prosedur politik. Ia hadir karena zamannya menghendaki. Ketika zaman itu berakhir, ia juga harus mampu mengenali tanda-tandanya,” jelas Wiwoho.
Pendekatan tersebut menjadi menarik di tengah dominasi cara berpikir modern yang cenderung menjelaskan politik melalui angka survei, kekuatan modal, algoritma media sosial, dan manuver elite. Buku ini menawarkan perspektif bahwa sejarah Indonesia juga dibentuk oleh dunia simbolik, keyakinan kolektif, serta nilai-nilai budaya yang bekerja di balik layar kekuasaan.
Sebagai jurnalis yang lama berinteraksi dengan lingkaran kekuasaan, Wiwoho memiliki akses pada berbagai sumber dan pengalaman yang membuat sejumlah bagian buku terasa hidup. Pembaca tidak hanya diajak melihat seorang presiden yang mengambil keputusan-keputusan besar, tetapi juga seorang manusia yang bergulat dengan keyakinan, keraguan, dan pencarian makna.
Meski demikian, buku ini tidak luput dari kritik. Beberapa bagian bergerak di wilayah interpretasi yang sulit diverifikasi secara akademik. Kedekatan penulis dengan sosok yang dibahas juga membuat sebagian pembaca mungkin mempertanyakan jarak kritis yang digunakan.
Namun justru di situlah posisi buku ini. Ia hadir di antara sejarah, kebudayaan, dan keyakinan. Bukan untuk menghakimi atau memuliakan, melainkan untuk memahami.
Pada akhirnya, Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen menawarkan cara pandang baru terhadap sejarah Indonesia. Buku ini mengingatkan bahwa di balik pidato politik, kebijakan negara, pergantian kabinet, dan dinamika kekuasaan, terdapat dunia batin yang turut memengaruhi cara para pemimpin memahami diri mereka sendiri dan arah bangsa yang dipimpinnya.
“Membaca sejarah Indonesia tidak cukup hanya melihat apa yang terjadi di ruang depan. Ada ruang belakang yang sering luput diperhatikan, tempat nilai, simbol, dan laku batin ikut bekerja membentuk perjalanan bangsa,” tutupnya.
Melalui buku ini, pembaca diajak memasuki ruang belakang tersebut. Sebuah ruang yang memperlihatkan bahwa politik bukan semata-mata soal perebutan kekuasaan, melainkan juga tentang pergulatan batin manusia yang menjalaninya.(her)










