INDOPOSCO.ID – Lebih dari 10 hari menjalankan tugas sebagai Pelaksana Gubernur sementara DKI Jakarta menggantikan Gubernur Pramono Anung yang tengah menunaikan ibadah haji di Makkah, Rano Karno dihadapkan pada sejumlah persoalan yang menuntut respons cepat dan kepemimpinan yang sigap.
Dalam periode tersebut, Jakarta menghadapi berbagai permasalahan, mulai dari amblesnya jalan di kawasan Lenteng Agung hingga kebakaran besar yang melanda permukiman warga di Kemayoran.
Pemerhati Kota Jakarta, Zulfikar Marikar, menilai Rano Karno mampu menunjukkan respons yang cepat sekaligus transparan dalam menangani berbagai persoalan tersebut.
Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik adalah amblesnya jalan di kawasan Lenteng Agung yang mengganggu mobilitas warga. Menurut Zulfikar, di bawah koordinasi Rano Karno, jajaran birokrasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama instansi teknis terkait bergerak cepat melakukan penanganan hingga proses perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima hari.
“Yang menarik, Rano Karno tidak hanya fokus pada penanganan teknis di lapangan, tetapi juga menyampaikan secara terbuka akar persoalan yang menyebabkan amblesnya jalan tersebut,” kata Zulfikar melalui gawai, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, penyebab utama kerusakan jalan berasal dari keroposnya jaringan pipa besi Armco yang telah berusia lebih dari 30 tahun. Korosi yang terjadi pada pipa tersebut membuat struktur tidak lagi mampu menahan debit air sehingga memicu kerusakan di bawah permukaan jalan.
Menurut Zulfikar, keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan penyebab persoalan menjadi bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik.
“Publik tidak hanya disuguhi solusi jangka pendek, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai persoalan mendasar yang selama ini luput dari perhatian,” jelas Zulfikar.
Belum lama setelah persoalan Lenteng Agung ditangani, Jakarta kembali dihadapkan pada musibah kebakaran besar di kawasan Kemayoran. Peristiwa tersebut menghanguskan sedikitnya 304 bangunan dan berdampak kepada 354 kepala keluarga dengan total 679 jiwa.
Menanggapi kejadian itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menyiapkan posko pengungsian di wilayah Kebon Kosong. Berbagai layanan disediakan bagi para korban, mulai dari pelayanan kesehatan, dapur umum, bantuan logistik hingga dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak.
Dalam penanganan kebakaran tersebut, Zulfikar kembali menyoroti sikap terbuka yang ditunjukkan Rano Karno. Menurutnya, Rano secara lugas menyampaikan bahwa sekitar 95 persen kasus kebakaran di Jakarta disebabkan oleh korsleting atau hubungan arus pendek listrik.
“Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan keselamatan instalasi listrik di kawasan permukiman padat masih menjadi tantangan serius yang harus ditangani secara sistematis,” katanya.
Zulfikar menilai kejujuran yang ditunjukkan Rano Karno patut diapresiasi karena mencerminkan kepemimpinan yang tidak hanya hadir ketika krisis terjadi, tetapi juga berani mengungkap akar persoalan secara apa adanya.
“Dalam konteks pemerintahan modern, transparansi menjadi elemen penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus mendorong perbaikan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” tutur Zulfikar.
Ia menegaskan bahwa respons cepat memang menjadi kebutuhan utama dalam setiap penanganan krisis. Namun demikian, keberanian mengakui sumber masalah merupakan langkah yang tidak kalah penting agar penyelesaian yang dilakukan tidak berhenti pada persoalan di permukaan.
“Sebab, penyelesaian persoalan kota tidak cukup hanya menangani dampak yang terlihat. Dibutuhkan keberanian untuk membenahi akar persoalan sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan secara tuntas,” tambahnya. (her)












