INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali terperosok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 82 poin ke level Rp17.921 per dolar AS. Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri.
Menurut Ibrahim, harga minyak mentah dunia yang terus menguat menjadi salah satu faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi, harga minyak mentah tercatat berada di level 94,58 dolar AS per barel, sementara Brent Crude Oil menguat ke posisi 96,72 dolar AS per barel.
“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya harga minyak mentah dunia. Selain itu, dolar AS juga mengalami penguatan sejak pagi hari,” kata Ibrahim melalui gawai.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti stagnasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program pengayaan uranium. Ketegangan kedua negara dinilai meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi energi dunia.
“Inti permasalahan utama saat ini adalah pengayaan uranium. Amerika Serikat menginginkan program tersebut dihentikan, tetapi Iran menolaknya,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Ibrahim juga menilai meningkatnya tensi antara Iran dan Israel turut memperburuk sentimen pasar. Iran disebut mulai menunjukkan sikap lebih agresif terhadap berbagai operasi militer Israel di kawasan, termasuk di Lebanon Selatan.
“Situasi ini menciptakan ketegangan baru di Timur Tengah dan mendorong harga minyak terus bergerak naik,” katanya.
Lonjakan harga energi tersebut berdampak langsung terhadap inflasi global, khususnya di Amerika Serikat. Biaya transportasi, logistik, hingga harga bahan bakar disebut mengalami kenaikan sehingga memperbesar peluang bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Kemungkinan besar The Fed akan mempertahankan suku bunga dan bahkan masih berpeluang menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun 2026 jika tekanan inflasi belum mereda,” jelas Ibrahim.
Ia menambahkan, kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih kuat semakin memperkuat peluang tersebut. “Data tenaga kerja meningkat dan angka pengangguran menurun. Ini menjadi alasan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi,” ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tingginya harga minyak menyebabkan kebutuhan dolar untuk impor energi semakin besar. Selain itu, kebutuhan pembayaran dividen perusahaan serta kewajiban utang yang jatuh tempo turut meningkatkan permintaan valuta asing.
“Kebutuhan dolar untuk impor minyak sangat besar. Ditambah pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo, permintaan dolar terus meningkat,” imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan adanya kecenderungan masyarakat mengalihkan dana dari tabungan konvensional ke instrumen berbasis valuta asing sebagai bentuk antisipasi terhadap pelemahan rupiah.
Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memberikan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama barang impor yang rentan mengalami kenaikan harga akibat pelemahan kurs.
“Pemerintah harus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat dengan memastikan ketersediaan pasokan barang, menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran, serta memberikan stimulus konsumsi dan subsidi yang efektif,” pungkasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan sektor riil dan hilirisasi industri guna meningkatkan daya tahan ekonomi nasional. “Pemerintah perlu terus mendorong industrialisasi, ekonomi biru, serta meningkatkan produktivitas sektor-sektor utama seperti pertanian untuk mencapai swasembada pangan,” jelas Ibrahim.
Meski diakui tidak mudah, langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah melambatnya investasi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Lebih lanjut, Ibrahim juga menyoroti pentingnya percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta akselerasi transformasi digital guna menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.
“Pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah strategis agar ekonomi tetap tumbuh, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kepercayaan investor tetap terjaga,” tambahnya.(her)












