INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI Rahmat Saleh menyoroti anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani menyusul rencana kebijakan ekspor sawit satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Diketahui, harga TBS sawit di sejumlah daerah dilaporkan turun tajam hingga menyentuh angka Rp1.500 per kilogram setelah munculnya wacana tata kelola baru ekspor komoditas strategis tersebut.
Merespons kondisi itu, Rahmat menduga ada pihak tertentu yang sengaja memainkan harga sawit karena merasa kepentingannya terganggu oleh kebijakan pemerintah.
“Saya menduga ini salah satu efek karena ada yang merasa terancam kemudian dimainkan harga sawit,” ujar Rahmat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Politisi PKS itu menjelaskan bahwa kebijakan pengendalian ekspor komoditas nasional sejatinya sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya saat penyampaian KEM PPKF APBN 2027.
Menurutnya, Presiden menekankan pentingnya penguatan kontrol terhadap ekspor bahan produksi strategis nasional seperti sawit dan batu bara demi menjaga kepentingan nasional.
“Salah satu inti pidato Presiden kemarin adalah bagaimana mengendalikan kondisi ekspor terutama bahan-bahan produksi nasional. Sawit, batu bara dan segala macam,” katanya.
Rahmat menegaskan, praktik spekulasi harga yang berdampak pada petani kecil tidak boleh dibiarkan, apalagi saat pemerintah tengah mendorong hilirisasi dan pemanfaatan sawit untuk sektor energi.
“Sekarang misi kita adalah bagaimana pemanfaatan sawit bukan hanya untuk minyak goreng, tapi juga biodiesel dan lain-lain,” jelas legislator dari daerah pemilihan Sumatra Barat I tersebut.
Ia pun meminta pihak-pihak yang diduga memainkan harga sawit agar menghentikan tindakan tersebut karena dinilai merugikan petani di tingkat bawah.
“Saya berpesan kepada pihak-pihak yang berupaya memainkan harga dengan dalih apa pun itu dihentikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rahmat menilai pelibatan BUMN dalam skema ekspor satu pintu justru berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global jika dijalankan dengan tata kelola yang baik.
“Kita fokus sekarang bagaimana menguatkan ketahanan energi nasional terutama dari sektor sawit. Ini bisa menjadi kebijakan yang tepat termasuk proses ekspor sawit melalui BUMN sehingga bisa meningkatkan nilai jual sawit,” tandasnya. (dil)










