INDOPOSCO.ID – Exim Bank Thailand bekerja sama dengan Technology and Innovation Development Support Program (ITAP), National Science and Technology Development Agency (NSTDA), serta Thailand Institute of Scientific and Technological Research (TISTR) menyelenggarakan seminar sehari bertajuk “Export Tools for SMEs Program”, sebagai bagian dari inisiatif pengembangan kapasitas pelaku usaha produk halal dalam Halal Bridge Program 2026. Kegiatan berlangsung di Jubilee Hotel Ratchadapisek, Bangkok.
Seminar dibuka oleh Executive Vice President Exim Bank Thailand, Dr. Meena Phattranawig.
Dalam sambutannya, Dr. Phattranawig menyampaikan bahwa program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas pengusaha Thailand yang memiliki produk unggulan agar mampu berkembang dan bersaing di pasar internasional.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pengetahuan di bidang pemasaran, pengembangan produk, pemenuhan standar global, penguatan konektivitas bisnis, serta akses terhadap pembiayaan melalui skema yang sesuai bagi pelaku usaha.
Acara juga dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, yang diwakili oleh Anggraini Soewono, Minister Counsellor Fungsi Ekonomi.
Hadir pula pimpinan Indonesia-Thai Chamber of Commerce (INTCC), Chandra, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Thailand.
Dalam kesempatan tersebut, INTCC menghadirkan Donny M. Yogantoro, Sekretaris Jenderal INTCC, sebagai pembicara tamu.
Ia membawakan presentasi bertajuk “Grow & Comply with Indonesia”, yang membahas peluang investasi dan pengembangan usaha di Indonesia.
Dalam paparannya, Donny menjelaskan bahwa Indonesia memiliki daya tarik investasi yang didukung oleh kekayaan sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, serta pertumbuhan kelas menengah yang dinilai memberikan potensi pasar yang kuat di kawasan Asia Tenggara.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan memasuki pasar Indonesia harus disertai dengan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Menurutnya, pelaku usaha Thailand perlu memahami berbagai ketentuan, termasuk regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Standar Nasional Indonesia (SNI), sebagai bagian dari persyaratan memasuki pasar Indonesia.
Pada sesi akhir presentasi, Donny juga memaparkan pentingnya pemahaman mengenai sistem jaminan produk halal di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa sebelum melakukan penetrasi pasar produk halal, pelaku usaha perlu memahami tujuan dan manfaat penerapan standar halal, terutama mengingat besarnya permintaan produk halal di Indonesia.
“Pemahaman yang utuh mengenai standar halal akan membantu pelaku usaha mempersiapkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia,” ujar Donny, yang juga memiliki kualifikasi sebagai penyelia halal.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, para peserta diharapkan memperoleh wawasan yang lebih komprehensif mengenai strategi ekspor, pemenuhan standar internasional, serta peluang pengembangan bisnis produk halal di Indonesia dan pasar global. (srv)


















