INDOPOSCO.ID — Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gandaria menggelar perayaan Masa Raya Pentakosta 2026 dan Riyaya Undhuh-Undhuh dengan parade budaya di sekitar lingkungan gereja, Kompleks Batalyon Infantri (Yonif) Mekanis 201 Jaya Yudha, Jakarta Timur, Minggu (24/5/2026) pagi.
Kegiatan tersebut diikuti ratusan jemaat dari berbagai wilayah pelayanan GKJ Gandaria.
Pendeta GKJ Gandaria, Dr Didik Christian A.C. menjelaskan bahwa Riyaya Undhuh-Undhuh merupakan tradisi syukur tahunan yang berakar dari budaya agraris masyarakat Jawa.
“Undhuh-Undhuh adalah hari raya syukur tahunan. Tradisi ini berasal dari kehidupan agraris, ketika para petani setelah bekerja selama satu tahun merasakan berkat Tuhan atas usaha mereka, lalu saat panen mereka mempersembahkan hasil panen itu kepada gereja sebagai wujud syukur,” ujarnya.
Menurutnya, nilai utama dari tradisi tersebut terus dilestarikan oleh gereja sebagai bentuk ungkapan syukur jemaat atas pemeliharaan Tuhan selama satu tahun.
“Spirit itulah yang kami lestarikan, bahwa Tuhan sudah memelihara dan memberkati kehidupan jemaat. Riyaya Undhuh-Undhuh menjadi hari raya panen dan pesta syukur tahunan kepada Tuhan,” katanya.
Ia menyebutkan, peserta kegiatan mencapai sekitar 400 orang yang berasal dari berbagai kelompok wilayah pelayanan GKJ Gandaria, mulai dari Cibinong hingga kawasan Pasar Rebo.
“Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan tahun kedua dan direncanakan akan terus dilaksanakan setiap tahun,” tambahnya.
Menurut Didik, antusiasme jemaat terlihat sejak pagi hari. Meski ibadah dimulai pukul 08.00 WIB, banyak jemaat sudah hadir sejak pukul 06.30 WIB untuk mengikuti rangkaian kegiatan.
“Mereka merasa ini adalah hari raya bersama. Antusiasmenya luar biasa,” tandasnya.
Peserta parade budaya berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia (lansia). Anak-anak sekolah minggu turut tampil dalam pertunjukan tari, sementara jemaat lansia juga ikut berpartisipasi dalam pawai budaya tersebut.
Sementara itu, Ketua Majelis GKJ Gandaria, Cahya Nugraha Pancono Putra mengatakan bahwa kegiatan Riyaya Undhuh-Undhuh tidak hanya menampilkan budaya Jawa, tetapi juga keberagaman etnis Indonesia.
“Kami menampilkan berbagai etnis, bukan hanya Jawa saja. Dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Walaupun namanya Gereja Kristen Jawa, jemaat kami berasal dari berbagai suku seperti Batak, Papua, dan lainnya,” katanya.
Menurut Cahya, pihak gereja berkomitmen melestarikan budaya sebagai bagian dari identitas kebangsaan tanpa mengurangi nilai keimanan.
“Secara kemajelisan kami ingin budaya ini terus dilestarikan. Keimanan tidak mengurangi budaya dan identitas kita sebagai warga negara Indonesia,” ujarnya.
Dalam parade tersebut, para peserta mengenakan beragam pakaian adat seperti busana Jawa, Batak, hingga Betawi. Penampilan budaya Betawi disebut menjadi salah satu yang paling menarik perhatian melalui iringan musik yang dinamis dan meriah.
Pantauan Indoposco.id di lokasi, ratusan peserta pawai budaya tampak dijaga sejumlah Provost Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha. Massa menelusuri jalanan komplek mulai dari dan menuju gereja. Sesekali terjadi kemacetan, namun dapat diurai oleh para prajurit berseragam loreng. (aro)










