INDOPOSCO.ID – Pemerintah menegaskan kondisi fiskal nasional hingga 30 April 2026 tetap berada pada jalur yang sehat dan terkendali. Di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menunjukkan fondasi yang kuat dengan pertumbuhan pendapatan negara yang positif, belanja negara yang ekspansif namun terukur, serta defisit yang tetap dalam batas aman.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Ia menegaskan bahwa APBN terus berperan sebagai instrumen stabilisasi sekaligus katalis pertumbuhan ekonomi nasional.
“APBN tetap sehat, adaptif, dan kredibel untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi serta menghadapi dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Purbaya.
Realisasi pendapatan negara hingga akhir April 2026 tercatat mencapai Rp918,4 triliun atau 29,1 persen dari target APBN tahun ini. Angka tersebut tumbuh 13,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi sebesar Rp100,6 triliun atau tumbuh 0,6 persen. Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp171,3 triliun dengan pertumbuhan 11,6 persen.
Di sisi belanja, realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.082,8 triliun atau 28,2 persen dari pagu APBN 2026. Belanja negara tumbuh cukup tinggi, yakni sebesar 34,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja Pemerintah Pusat tercatat sebesar Rp826 triliun yang didorong oleh peningkatan belanja kementerian/lembaga maupun non-kementerian/lembaga. Sementara itu, Transfer ke Daerah terealisasi sebesar Rp256,8 triliun atau 37,1 persen dari target APBN.
“Belanja pemerintah terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, dan memperkuat pelayanan publik,” kata Purbaya.
Meski belanja meningkat, APBN tetap mencatat defisit yang terkendali sebesar Rp164,4 triliun atau sekitar 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menilai angka tersebut masih berada dalam batas aman sesuai target fiskal tahun 2026.
Kondisi fiskal juga tercermin dari keseimbangan primer yang masih mencatat surplus Rp28 triliun. Menurut pemerintah, capaian tersebut menunjukkan pengelolaan fiskal yang disiplin di tengah tekanan ekonomi global.
Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran hingga April 2026 mencapai Rp298,5 triliun atau 43,3 persen dari target APBN.
Pada saat yang sama, perekonomian nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 maupun ASEAN.
Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen. Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga serta aktivitas ekonomi domestik yang terus bergerak positif.
Selain itu, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 21,8 persen pada Triwulan I 2026. Pemerintah menilai peningkatan tersebut menunjukkan pola belanja yang semakin baik dan tidak lagi terkonsentrasi pada akhir tahun anggaran.
“Percepatan belanja pemerintah menjadi bagian dari strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Purbaya.
Dari sisi stabilitas harga, tingkat inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan dan tetap berada dalam target Bank Indonesia.
Kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga dinilai masih kuat. Di tengah sentimen global yang cenderung risk-off, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatat net inflow sebesar Rp13,4 triliun pada April dan Rp1,5 triliun hingga pertengahan Mei 2026.
Pemerintah memastikan akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah, pergerakan yield SBN, serta berbagai indikator risiko fiskal guna menjaga stabilitas sektor keuangan domestik.
“Pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat dan berkelanjutan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan menjaga stabilitas nasional,” tutupnfya. (her)










