INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan seiring menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan nasional, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis.
Dalam perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup melemah 38 poin ke level Rp17.705 per dolar AS. Mata uang Garuda bahkan sempat terperosok hingga 70 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.680 per dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah kali ini bukan semata dipicu sentimen global, tetapi juga membuka kerentanan struktural ekonomi domestik, khususnya di sektor pangan.“
Tekanan terhadap rupiah bukan hanya soal sentimen global. Di dalam negeri, pelemahan mata uang Garuda mulai menguji ketahanan harga pangan nasional, terutama karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas penting,” ujar Ibrahim melalui gawai, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah membuat biaya impor melonjak lantaran mayoritas transaksi perdagangan internasional menggunakan dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga bahan pangan dan produk olahan di pasar domestik.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan saat ini masih tergolong tinggi. Gandum masih sepenuhnya diimpor, sementara kedelai sekitar 90 persen dipenuhi dari luar negeri. Selain itu, impor bawang putih mencapai sekitar 95 persen, gula sekitar 60 persen, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen.
Menurut Ibrahim, jika tren pelemahan rupiah terus berlanjut, dampaknya dapat segera merembet pada kenaikan harga kebutuhan masyarakat. Fenomena tersebut dikenal sebagai imported inflation, yakni inflasi yang muncul akibat depresiasi nilai tukar dan tingginya ketergantungan pada barang impor.
“Dalam situasi seperti ini, bukan hanya bahan baku yang terdampak, tetapi juga produk olahan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari,” katanya.
Ia memprediksi tekanan paling cepat akan dirasakan pada komoditas berbasis gandum dan kedelai. Industri pengolahan dinilai akan langsung menghadapi lonjakan biaya bahan baku, yang kemudian diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual.
“Produk seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya berpotensi ikut terkerek, terutama pada semester II/2026,” ungkap Ibrahim.
Tak hanya itu, kenaikan biaya produksi juga dipicu oleh meningkatnya ongkos energi, distribusi, kemasan, serta logistik. Karena itu, harga pangan olahan diperkirakan akan lebih cepat mengalami penyesuaian dibanding komoditas mentah.
Di pasar valuta asing, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (20/5/2026) masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS,” tutupnya. (her)











