INDOPOSCO.ID – Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026) dibuka turun 75 poin ke level Rp17.672 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam analisanya, Ibrahim menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026) menjadi perhatian pelaku pasar dan memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Menurut Ibrahim, pernyataan yang terkesan menganggap pelemahan rupiah tidak berdampak bagi masyarakat desa karena tidak menggunakan dolar justru memunculkan persepsi negatif di pasar.
“Pernyataan Presiden Prabowo dianggap pasar sebagai bentuk sikap yang terlalu menganggap enteng penguatan dolar terhadap rupiah. Ini akhirnya berdampak terhadap sentimen pasar,” ujar Ibrahim dalam analisanya, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, penguatan dolar AS memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional, terutama pada sektor impor energi. Ketika dolar menguat, harga minyak mentah ikut terdorong naik sehingga beban impor Indonesia semakin besar.
“Saat dolar mengalami penguatan, harga minyak mentah juga naik. Ini berdampak terhadap impor minyak Indonesia yang sangat besar,” katanya.
Ibrahim juga menilai kondisi tersebut dapat mendorong masyarakat mengalihkan simpanan dari rupiah ke valuta asing karena kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang domestik.
“Masyarakat bisa berpindah dari tabungan rupiah ke valuta asing. Ini yang harus diantisipasi pemerintah,” jelas Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menilai komunikasi pemerintah seharusnya difokuskan pada upaya penanganan krisis dan strategi penguatan rupiah, bukan sekadar pernyataan bernada candaan atau olok-olok.
Ia menyebut pemerintah perlu memberikan penjelasan yang lebih konkret mengenai langkah pengendalian impor energi, termasuk rencana implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil.
“Yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah memberikan solusi bagaimana menangani krisis agar rupiah kembali menguat,” kata Ibrahim.
Dalam kesempatan itu, Ibrahim juga menyoroti perkembangan masyarakat di era teknologi saat ini. Menurutnya, masyarakat desa kini sudah memahami isu ekonomi global, termasuk dolar dan investasi saham.
“Sekarang masyarakat desa juga tahu tentang dolar dan saham. Teknologi membuat informasi bisa diakses semua kalangan,” tuturnya.
Ia pun menilai komunikasi publik pemerintah perlu disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat ini agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah kondisi ekonomi yang sensitif.
“Masyarakat di desa sekarang bahkan bisa lebih cepat memahami perkembangan ekonomi dibanding yang dibayangkan pemerintah,” tambahnya.
Dikehatui, Presiden Prabowo Subianto buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh level Rp17.600 per US$. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026), di tengah kekhawatiran publik terhadap kondisi rupiah yang tercatat menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
Di hadapan peserta acara, Prabowo mencoba menenangkan masyarakat dengan menyebut kondisi ekonomi nasional masih terkendali. Ia bahkan berkelakar bahwa masyarakat desa tidak terlalu terdampak gejolak dolar AS karena aktivitas sehari-hari tidak menggunakan mata uang tersebut.
“Selama Purbaya Yudhi Sadewa bisa senyum, tenang saja, nggak usah kau khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” ujar Prabowo yang langsung disambut tawa para peserta.
Meski demikian, Prabowo mengakui pelemahan rupiah tetap memiliki dampak, terutama bagi kalangan yang melakukan transaksi menggunakan dolar AS. Namun, ia memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan pemerintah optimistis mampu menghadapi tekanan global yang tengah terjadi. (her)











