INDOPOSCO.ID – Gejolak kembali menyelimuti pasar keuangan Indonesia pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama berada di zona tekanan, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah ekonomi global dan arus modal asing.
Meski begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi tersebut belum mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi nasional.
Ia menegaskan tekanan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar dan sentimen global yang bersifat sementara.
“Enggak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Pada perdagangan Senin pagi, IHSG dibuka melemah 94,34 poin atau 1,40 persen ke level 6.447,97. Tekanan jual langsung membesar hanya beberapa menit setelah pasar dibuka. Dua menit berselang, pelemahan indeks semakin dalam hingga 2,59 persen.
Koreksi belum berhenti. Sekitar satu jam perdagangan berjalan, IHSG tercatat sempat terperosok 4,3 persen hingga menyentuh area 6.428.
Di pasar mata uang, rupiah juga bergerak melemah. Nilai tukar Garuda dibuka turun 75 poin ke posisi Rp17.672 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Purbaya, tekanan yang muncul saat ini lebih banyak dipicu dinamika eksternal dibanding kondisi domestik. Karena itu, pemerintah memilih fokus menjaga mesin pertumbuhan ekonomi tetap berjalan agar kepercayaan pasar tidak terganggu.
“Saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ungkap Purbaya.
Selain menjaga pertumbuhan, pemerintah juga mulai melakukan intervensi di pasar surat utang negara untuk meredam tekanan yang berpotensi memicu aksi jual lebih besar.
“Kita sudah masuk tapi hanya sedikit, mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali,” jelas Purbaya.
Ia menjelaskan stabilitas pasar obligasi penting dijaga agar investor asing tidak buru-buru melepas kepemilikan mereka akibat kekhawatiran kerugian harga.
“Sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss karena harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” tambahnya. (her)











