INDOPOSCO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan satu kontak erat kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari kapal pesiar MV Hondius dinyatakan negatif Hantavirus. Hasil tersebut keluar setelah pasien menjalani pemeriksaan intensif di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.
Kapal pesiar MV Hondius tengah menjadi sorotan internasional karena adanya wabah Hantavirus yang menyerang penumpang dan kru selama pelayaran di Samudra Atlantik. Tiga orang meninggal dunia, terdiri dari pasangan warga negara Belanda dan satu warga negara Jerman.
“Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” kata Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan dr. Andi Saguni dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan.
Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.
“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujar dr. Andi.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas.
“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta,” imbuh dr. Andi Saguni.
Virus Hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.(dan)











