INDOPOSCO.ID – Fluktuasi harga nikel global dan ketatnya kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi tantangan besar bagi industri pengolahan nikel di Indonesia. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), perusahaan pengolahan nikel yang berada di sektor midstream atau industri antara.
Chief Financial Officer (CFO) PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), Wirya Hadinata, mengatakan, posisi perusahaan yang berada di tengah rantai ekosistem nikel membuat JLMI menghadapi tekanan dari sisi hulu maupun hilir industri.
“PT JLMI ini merupakan perusahaan pengolahan nikel, jadi pabrik yang mengolah biji nikel menjadi produk NPI atau Nickel Pig Iron. Posisi kami ada di tengah-tengah antara bahan baku nikel ore dengan produk turunannya yaitu stainless steel,” ujar Wirya dalam wawancara kepada INDOPOSCO, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, kondisi industri midstream saat ini cukup menantang karena harga jual produk yang fluktuatif terjadi bersamaan dengan kenaikan harga bahan baku.
“Karena kita ada di industri tengah-tengah, tantangannya memang berat. Di satu sisi harga jual fluktuatif, di sisi lain harga row material ikut naik seiring pembatasan RKAB oleh pemerintah,” katanya.
Wirya menjelaskan, kenaikan harga bahan baku sangat memengaruhi operasional perusahaan karena komponen terbesar biaya produksi berasal dari bijih nikel.
“Row material nikel ore itu sekitar 60 persen dari total cost kami. Jadi ketika harga ore naik, otomatis tekanan ke industri midstream sangat terasa,” jelas Wirya.
Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan kini fokus mencari berbagai komponen biaya yang masih dapat dikendalikan. “Strateginya bagaimana kita mencari biaya-biaya yang masih bisa kita kontrol supaya total cost atau cash cost tetap terjaga dan perusahaan masih memiliki profit,” ujarnya.
Salah satu strategi yang diterapkan JLMI adalah melakukan blending atau pencampuran bijih nikel berkadar tinggi dan rendah agar operasional tetap efisien.
“Kita sekarang menerapkan blending nikel ore kadar tinggi dan kadar rendah supaya tetap bisa beroperasi efisien. Kalau beli kadar tinggi terus tentu mahal. Jadi kita cari komposisi yang masih bisa diterima pabrik tetapi dengan harga lebih murah,” tutur Wirya.
Ia menegaskan, tantangan industri saat ini bukan hanya pada harga, tetapi juga keterbatasan pasokan akibat ketatnya RKAB. “Suplai nikel ore tahun ini rendah karena RKAB ketat, sementara demand meningkat. Akibatnya harga pasti naik dan itu jadi kendala utama industri midstream sekarang,” katanya.
Meski demikian, Wirya memastikan pasokan utama perusahaan sejauh ini masih aman karena mendapat dukungan dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang menjadi salah satu pemegang saham JLMI.
“Untuk suplai sejauh ini aman karena Antam masih support kami selaku pemegang saham 30 persen di PT Jiu Long,” ungkapnya.
JLMI sendiri beroperasi di Halmahera Tengah dan merupakan bagian dari Tsingshan Holding Group, salah satu produsen stainless steel terbesar di dunia.
Sebagai satu-satunya direksi dari Antam yang ditempatkan di JLMI, Wirya mengaku memiliki tantangan tersendiri dalam membawa budaya kerja BUMN ke perusahaan multinasional tersebut, terutama terkait penerapan good corporate governance (GCG).
“Saya membawa budaya Indonesia di BUMN yang sangat menekankan good corporate governance. Tantangannya bagaimana menerapkan budaya GCG itu di perusahaan swasta asing,” imbuhnya.
Ia mengatakan edukasi terkait regulasi dan tata kelola perusahaan terus dilakukan kepada seluruh tim agar operasional perusahaan berjalan sesuai aturan di Indonesia.
“Kita terus memberikan pemahaman bahwa ada regulasi-regulasi di Indonesia yang harus dipenuhi supaya perusahaan bisa menjalankan amanah GCG dengan baik dan benar,” ungkap Wirya.
Menurut Wirya, penerapan GCG menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan perusahaan di tengah persaingan industri yang ketat. “GCG itu merupakan kunci agar perusahaan bisa beroperasi secara berkelanjutan,” tegasnya.
Saat ini, seluruh produksi JLMI berorientasi ekspor dengan pasar utama China melalui skema off-taker dari pemegang saham mayoritas perusahaan. “Sejak 2024 seluruh produksi kami ekspor. Pangsa pasarnya memang ke China,” katanya.
Dari sisi tenaga kerja, Wirya menjelaskan bahwa JLMI mengandalkan mayoritas pekerja lokal dalam operasional perusahaan.
“Sekitar 70 persen tenaga kerja kami lokal. Dari total sekitar 700 pekerja, sekitar 400 sampai 500 orang merupakan tenaga kerja Indonesia,” tambahya. (her)











