INDOPOSCO.ID – Pergerakan harga emas diproyeksikan masih akan penuh gejolak pada pekan depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang datang dari berbagai arah. Mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan moneter, semuanya menjadi bahan bakar volatilitas komoditas safe haven tersebut.
Pada perdagangan Minggu (3/5/2026), harga emas batangan Antam atau logam mulia tercatat berada di level Rp2.796.000 per gram. Sementara itu, harga emas dunia bertengger di atas US$4.600 per troy ons, menandakan tekanan sekaligus potensi lonjakan masih terbuka lebar.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa arah harga emas dalam waktu dekat sangat bergantung pada dinamika global. Ia memperkirakan, jika tekanan mendominasi pasar, harga emas dunia bisa turun ke kisaran US$4.389 hingga US$4.520 per troy ons.
“Kalau terjadi koreksi, emas dunia bisa turun ke area US$4.389 sampai US$4.520. Dampaknya, harga logam mulia dalam negeri berpotensi menyentuh Rp2.750.000 hingga Rp2.786.000 per gram,” ujar Ibrahim melalui gawai, Minggu (3/5/2026).
Meski demikian, skenario sebaliknya juga terbuka. Jika ketegangan global semakin memanas dan permintaan meningkat, harga emas justru berpotensi melonjak. Dalam kondisi tersebut, emas dunia diproyeksikan bisa menembus level US$4.702 hingga US$4.851 per troy ons.
“Untuk domestik, harga emas Antam bisa bergerak naik ke kisaran Rp2.886.000 sampai Rp2.900.000 per gram,” tambahnya.
Ibrahim menjelaskan bahwa ada lima faktor utama yang saat ini menjadi penentu arah harga emas dunia. Faktor paling dominan adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas. Selain itu, kondisi politik di Amerika Serikat (AS), tensi perang dagang, kebijakan bank sentral global, serta dinamika supply and demand juga turut berperan besar.
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan AS, disebut berpotensi menjadi konflik berkepanjangan. Bahkan, muncul spekulasi penggunaan teknologi militer canggih yang dapat memperburuk situasi. Di sisi lain, aktivitas militer Israel di Lebanon Selatan juga terus meningkat, menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan.
Situasi ini umumnya menjadi katalis positif bagi emas sebagai aset lindung nilai. Namun di balik itu, lonjakan harga minyak akibat konflik justru bisa memicu kenaikan suku bunga oleh bank sentral global.
“Kalau harga minyak naik, inflasi ikut terdorong. Bank sentral bisa menaikkan suku bunga, dan itu biasanya membuat emas tertekan karena investor beralih ke instrumen berbunga,” jelas Ibrahim.
Di tengah fluktuasi tersebut, faktor permintaan justru menjadi penopang penting. Saat harga terkoreksi, peluang pembelian oleh investor besar, bank sentral, maupun masyarakat semakin terbuka.
“Dalam kondisi harga turun, biasanya terjadi akumulasi. Jadi secara jangka menengah hingga panjang, tren emas masih cenderung naik,” tambahnya.
Data menunjukkan, dalam sepekan terakhir harga emas dunia sempat menyentuh level tertinggi di US$4.690 per troy ons pada 28 April 2026. Pada hari yang sama, harga emas Antam juga mencapai puncak mingguan di Rp2.814.000 per gram.
Dengan berbagai faktor yang saling tarik-menarik, pelaku pasar kini dihadapkan pada satu hal yang pasti, yakni ketidakpastian. Bagi investor, kondisi ini bisa menjadi peluang, atau justru jebakan, tergantung bagaimana membaca arah angin global. (her)











