INDOPOSCO.ID – Tembaga kian menegaskan posisinya sebagai komoditas strategis di tengah transformasi industri global. Dengan cadangan yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memaksimalkan nilai tambah dari komoditas ini.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI masuk dalam tujuh besar negara dengan cadangan tembaga terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 3 persen dari total global. Namun, dari sisi produksi tambang, Indonesia masih berada di peringkat ke-11, sementara di sektor hilir menempati posisi ke-18.
Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menyebutkan permintaan tembaga ke depan akan didorong oleh tiga sektor utama.
Pertama, sektor infrastruktur dan kelistrikan yang membutuhkan tembaga untuk kabel, trafo, dan jaringan distribusi energi. Kedua, sektor energi baru terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan tenaga angin yang sangat bergantung pada konduktivitas tembaga. Ketiga, industri otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV), yang menggunakan tembaga dalam jumlah besar untuk sistem baterai dan kelistrikan.
Ia menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri turunan menjadi kunci agar produksi tembaga dalam negeri tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah atau setengah jadi.
“Jika ekosistem industri ini berkembang, maka produksi tembaga olahan dari smelter dapat terserap optimal di dalam negeri,” ujarnya.
Saat ini, industri tembaga nasional didukung oleh sejumlah perusahaan besar seperti PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral Internasional Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk yang mengelola proyek strategis dengan cadangan signifikan.
Dari sisi hilirisasi, keberadaan smelter menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah. Kementerian ESDM mencatat pengolahan tembaga melalui smelter dapat meningkatkan nilai hingga 1,74 kali lipat dibandingkan ekspor konsentrat mentah.
Sejumlah fasilitas pengolahan tembaga juga telah beroperasi, terutama di Gresik, Jawa Timur, serta proyek smelter baru di Nusa Tenggara Barat yang semakin memperkuat kapasitas domestik.
Dengan kombinasi cadangan besar, penguatan hilirisasi, serta tingginya permintaan dari sektor strategis, tembaga berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia. Optimalisasi komoditas ini dinilai akan semakin efektif jika didukung kebijakan yang mendorong investasi dan integrasi industri dari hulu hingga hilir.(srv)










