INDOPOSCO.ID – Di tengah dorongan transisi energi sektor transportasi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) mengakselerasi pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai alternatif yang dinilai bukan hanya hemat, tetapi juga unggul secara teknis dan ramah lingkungan.
Secara teknis, BBG memiliki nilai oktan (Research Octane Number/RON) sangat tinggi di kisaran 120-130. Angka ini memungkinkan mesin bekerja pada rasio kompresi lebih tinggi, menghasilkan efisiensi termal yang lebih optimal dibandingkan bahan bakar minyak.
Direktur Operasi dan Komersial Gagas, Maisalina, menegaskan aspek keamanan juga menjadi prioritas utama dalam pemanfaatan BBG.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Pemasangan converter kit maupun tangki BBG mengikuti standar keselamatan internasional dan dikerjakan tenaga ahli kompeten,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Sebagai bahan bakar berbasis metana (CH₄), pembakaran BBG di ruang mesin lebih sempurna dan bersih. Emisi karbon yang dihasilkan disebut sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), tanpa meninggalkan residu pada komponen mesin.
Dampaknya, mesin menjadi lebih awet dan biaya perawatan kendaraan dapat ditekan.
Tangki BBG sendiri dirancang dengan standar keamanan tinggi. Jika terjadi kebocoran, gas akan langsung menguap ke udara sehingga meminimalkan risiko ledakan.
Dari sisi biaya, BBG dipasarkan dengan harga stabil di kisaran Rp4.500 per Liter Setara Pertalite (LSP) karena bersumber dari gas domestik.
Rata-rata konsumsi harian BBG tercatat sekitar 10 LSP per hari untuk kendaraan pribadi (setara ±100 km), 20 LSP per hari untuk taksi, 15-20 LSP per hari untuk bajaj dan angkot, serta 125-165 LSP per hari untuk kendaraan jenis truk atau bus.
Satu LSP BBG mampu menempuh jarak hingga 10 km, menjadikannya efisien untuk operasional harian.
BBG dapat digunakan pada kendaraan dedicated fuel maupun sistem dual fuel melalui pemasangan converter kit, memungkinkan pengemudi beralih antara BBG dan BBM. Sistem ini juga memperpanjang jarak tempuh kendaraan.
Saat ini, BBG telah digunakan oleh taksi konvensional dan online, bajaj, angkot, kendaraan pribadi, hingga armada Transjakarta.
Gagas juga menggandeng Komunitas Mobil Gas (Komogas) untuk memperkuat ekosistem BBG. Salah satu langkah konkret adalah menghadirkan bengkel keliling BBG sekaligus edukasi keselamatan dan efisiensi penggunaan.
Ketua Komogas, Andy Lala, menyebut BBG sebagai solusi rasional di tengah kenaikan harga BBM dan mahalnya kendaraan listrik.
“Bengkel Keliling BBG sangat membantu. Perawatan jadi mudah tanpa mengganggu waktu kerja pengemudi,” katanya.
Melalui kolaborasi ini, PGN dan Gagas berharap adopsi BBG kian meluas sebagai solusi bahan bakar yang andal, terjangkau, dan rendah emisi bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. (rmn)










