• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Ambisi Hijau vs Realitas Lapangan: Jalan Terjal Transisi Energi Indonesia

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 10 April 2026 - 16:38
in Ekonomi
Kapal-Nelayan

Ilustrasi Kapal nelayan yang lama terbengkalai di area PLTU Cirebon-1. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Di tengah bayang-bayang gejolak geopolitik global yang berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), arah transisi energi di Indonesia justru terlihat gamang. Keputusan membatalkan pensiun dini sejumlah pembngkit listrik tenaga uap (PLTU) menambah panjang daftar hambatan dalam upaya menuju energi bersih.

Di sisi lain, tekanan dari masyarakat akar rumput semakin menguat. Dari Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Sumatera Utara hingga Provinsi Jawa Barat, suara warga yang terdampak proyek energi baru terbarukan (EBT) menggema dalam satu pesan: transisi energi tidak boleh sekadar mengejar angka, tetapi harus adil, transparan, dan berpihak pada masyarakat.

BacaJuga:

BTN Cetak Laba Bersih Rp2,4 Triliun di Semester I 2026, Melonjak 40,8 Persen

SAPA UMKM dan KUR Jadi Strategi Pemerintah Perkuat Daya Saing Pengusaha

Menkop Tegaskan Isu “Keberlanjutan” Faktor Penting Bagi Koperasi

Sektor energi sendiri masih menjadi kontributor besar emisi global. Bahkan International Energy Agency memproyeksikan batu bara tetap dominan hingga 2030. Meski pemerintah telah menetapkan target Net Zero Emission 2060 dan komitmen NDC, realisasi di lapangan masih tersendat.

Di Sumatera Utara, pemahaman warga terhadap dampak PLTU sebenarnya cukup tinggi. Penelitian Yayasan Srikandi Lestari menunjukkan mayoritas masyarakat sudah menyadari risiko pembakaran batu bara.

“Tetapi, karena narasi yang dibangun bahwa energi bersih mahal maka jadi kurang diminati,” kata Direktur Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti.

Ia juga menyoroti pentingnya keadilan bagi warga terdampak dalam skenario transisi ke depan.

“Jika nantinya pensiun dini PLTU dijalankan dan transisi energi dilakukan, yang penting adalah adanya kompensasi yang adil bagi masyarakat terdampak karena semua ini berkaitan dengan masa depan anak cucu kita,” tegasnya.

Di Jawa Barat, rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1 justru disambut positif oleh warga pesisir. Aktivitas PLTU selama ini dinilai mengganggu ruang tangkap nelayan sekaligus menekan pendapatan perempuan pesisir.

Berbeda lagi dengan situasi di Sumatera Barat, di mana proyek EBT kerap memicu konflik sosial. Minimnya pelibatan warga sejak awal membuat proyek energi bersih justru dipandang sebagai bentuk eksploitasi baru.

“Konflik dalam proyek energi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Talang, misalnya, terjadi karena pemerintah lebih sibuk membangun narasi transisi, tanpa memastikan keterlibatan masyarakat. Akibatnya, proyek-proyek skala besar justru dipandang sebagai bentuk eksploitasi sumber daya alam yang mengorbankan warga,” ungkap Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi.

Peneliti Universitas Andalas, Apriwan, melihat persoalan utama bukan pada kurangnya kebijakan, melainkan ketidaksinkronan antara desain nasional dan realitas lokal. Sejumlah proyek di Sumatera Barat menunjukkan pola yang sama: konflik lahan, ketimpangan manfaat, hingga krisis kepercayaan.

“Kondisi ini tidak boleh hanya dilihat sebagai penolakan terhadap transisi energi, tetapi justru menunjukkan masih ada kesenjangan keadilan dalam tata kelola transisi energi,” tuturnya.

Menurutnya, solusi tidak bisa dilepaskan dari nilai lokal seperti Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan Salingka Nagari, yang menekankan legitimasi moral serta musyawarah kolektif.

Sementara itu, Onrizal dari Green Justice Indonesia melihat peluang besar di Sumatera Utara jika transisi dilakukan dengan pendekatan inklusif.

“Sumatera Utara memiliki sumber-sumber energi terbarukan yang potensial untuk mempercepat transisi energi sekaligus menjaga keadilan sosial bagi masyarakat rentan dalam mempercepat penurunan emisi,” jelasnya.

Hal senada ditegaskan Meiki Paendong selaku Direktur Rhizoma dan pelaksana lokakarya di Jawa Barat. Menurutnya, pensiun dini PLTU tidak cukup hanya bicara teknologi, tetapi juga keadilan sosial.

“Suara warga lokal harus menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan kebijakan karena transisi energi bukan semata persoalan teknis dan ekonomi melainkan proses sosial yang harus melibatkan masyarakat terdampak sebagai subjek utama perubahan,” tutupnya. (her)

Tags: energilistrikpltu

Berita Terkait.

Nixon
Ekonomi

BTN Cetak Laba Bersih Rp2,4 Triliun di Semester I 2026, Melonjak 40,8 Persen

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:40
Gudang Amunisi TNI AD di Madiun Meledak, 1 Prajurit Meninggal dan 6 Luka-Luka
Ekonomi

SAPA UMKM dan KUR Jadi Strategi Pemerintah Perkuat Daya Saing Pengusaha

Kamis, 16 Juli 2026 - 21:35
menkop
Ekonomi

Menkop Tegaskan Isu “Keberlanjutan” Faktor Penting Bagi Koperasi

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:57
fif
Ekonomi

FIFGROUP Salurkan Rp1,88 Miliar Dana Bergulir Bagi 524 UMKM Binaan

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:07
Dealer
Ekonomi

Permudah Akses Pelanggan, Astra Daihatsu Resmikan Outlet Baru di Bukittinggi

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:06
Pembiayaan
Ekonomi

Geely Perkuat Ekspansi Jaringan Diler melalui Kolaborasi Strategis dengan BCA

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:05

BERITA POPULER

  • messi

    Piala Dunia: Jelang Semifinal Kontra Inggris, Messi Pamitan dari Markas Argentina di Kansas

    12443 shares
    Share 4977 Tweet 3111
  • Suzuki Fronx Kuasai 35 Persen Pasar SUV Kompak di Indonesia

    2773 shares
    Share 1109 Tweet 693
  • Piala Dunia 2026: Wasit Kontroversial AS Pimpin Semifinal Argentina vs Inggris

    1274 shares
    Share 510 Tweet 319
  • Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah Resmi Ditetapkan Jadi Tersangka

    1183 shares
    Share 473 Tweet 296
  • Sah Jadi WNI, Mitchell Baker Bawa Postur Tinggi dan Insting Gol Mumpuni

    1065 shares
    Share 426 Tweet 266
Timnas-Argentina
Olahraga

Pemain Argentina Bentangkan Spanduk Klaim Falkland, Inggris Desak FIFA Turun Tangan

Editor Ali Rachman
Jumat, 17 Juli 2026 - 09:31

INDOPOSCO.ID - Menteri Perdagangan Inggris Peter Kyle mendesak Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) melakukan penyelidikan setelah para pemain tim nasional...

SelengkapnyaDetails
Kane

Hasil Piala Dunia: Inggris Ditekuk Argentina, Harry Kane Sesali Strategi Parkir Bus yang Berujung Petaka

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:30
Enzo

Hasil Piala Dunia: Comeback Dramatis! Argentina Bekuk Inggris, Tantang Spanyol di Final

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:17
Mbapee

Curhat Mbappe Setelah Prancis Ditekuk Spanyol, Singgung Kegagalan Taktik di Semifinal

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:24
Pemberantasan Korupsi Tak Cukup dengan Dukungan Politik, Pengamat Tekankan Konsistensi

Resep Spanyol ke Final Piala Dunia 2026: Setia pada Fondasi dan Regenerasi

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:42
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.