• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Peradaban Baru Dunia, Peradaban Baru Betawi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 4 April 2026 - 15:16
in Megapolitan
2
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Abu Bakar Maulana, Kaukus Muda Betawi

Dunia sedang mencari bentuk baru. Perang dagang, konflik Timur Tengah, krisis iklim, dan revolusi kecerdasan buatan membuat peta peradaban lama goyah.

BacaJuga:

SD Ambruk 2 Tahun Dibiarkan, Sudin Pendidikan Jaksel Berdalih Masalah Birokrasi

Prajurit TNI Meninggal Ditusuk di Tangerang, 4 Pelaku Diringkus Polisi

Jakarta Siapkan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun, LRT hingga Pengendalian Banjir Jadi Prioritas

Negara-negara besar sibuk membangun tembok, sementara yang kecil sibuk mencari pijakan. Di tengah kegaduhan itu, muncul pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri di mana posisi kita, dan lebih khusus lagi, di mana posisi Betawi?

Betawi sering diposisikan sebagai “korban modernisasi”. Kampungnya digusur, bahasanya dianggap kasar, budayanya hanya dipanggil saat festival, keliatan ramehnya saat Lebaran Betawi. Narasi itu ada benarnya, tapi juga berbahaya. Karena narasi korban hanya melahirkan keluhan, bukan gagasan.

Padahal jika kita jujur, Betawi adalah produk dari “peradaban baru” pada zamannya. Ia lahir bukan dari suku yang tunggal, melainkan dari pertemuan pelabuhan Sunda Kelapa yang mempertemukan Arab, Tionghoa, Jawa, Sunda, Melayu, dan Belanda.

Dari pertemuan itu lahir bahasa baru, musik baru (gambang kromong, tanjidor), dan adab baru (hormat tamu, pantun jenaka, silat yang merunduk).

Betawi sesungguhnya sudah punya Deoxyribonucleic Acid (DNA) peradaban baru, agamis, egaliter dan demokratis, tapi tidak kehilangan pusat. Pusat itu adalah adab bukan pada bentuk budaya, melainkan pada nilai merendah pada yang tua, memuliakan tamu, bercanda tanpa menghina, menyelesaikan sengketa dengan musyawarah.

Masalahnya hari ini, DNA itu tidak punya ruang untuk hidup. Henri Lefebvre menyebutnya hak atas kota hak warga untuk memproduksi ruang hidupnya sendiri. Kampung Betawi yang dulu menjadi laboratorium peradaban baru kini digusur atas nama pembangunan. Kita membangun kota global, tapi mematikan laboratorium lokal tempat peradaban itu diuji.

David Harvey menambahkan kota tumbuh dengan akumulasi melalui perampasan. Ruang murah milik warga diambil, diubah jadi properti mahal, penghuni lamanya dipinggirkan. Betawi tidak hilang karena kalah bersaing, tapi karena ruangnya dirampas. Maka wajar jika peradaban Betawi berhenti berinovasi laboratoriumnya ditutup.

Namun dunia yang sedang mencari bentuk baru justru memberi peluang. Peradaban baru dunia hari ini tidak lagi bicara tentang keseragaman, melainkan tentang keberlanjutan lokal, identitas, dan komunitas.

Kota-kota dunia berlomba menghidupkan kembali pasar rakyat, kampung kreatif, dan kearifan lokal sebagai daya tarik, bukan beban.

Di sinilah Betawi bisa masuk, bukan sebagai objek nostalgia, tapi sebagai subjek peradaban. Bukan untuk menolak modernitas, melainkan dengan adab Betawi, teknologi dipakai, tapi tidak menggusur tetangga investasi masuk, tapi tidak merampas ruang hidup.

Gubernur Pramono Anung yang menggagas Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, sadar atau tidak, sedang membuka pintu itu. Lapangan Banteng adalah ruang publik, bukan ruang kekuasaan. Ia bisa menjadi simbol bahwa peradaban baru Betawi tidak dibangun di balik pagar, tapi di ruang terbuka.

Namun simbol tidak cukup. Peradaban butuh struktur. Dan di sinilah jawabannya adalah Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Lembaga Adat Masyarakat Betawi.

Pergub ini bukan sekadar administrasi. Ia adalah terjemahan dari empat amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017 perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.

Perlindungan,, agar bale, langgar, dan sanggar tidak hilang digusur, agar guru silat dan tetua kampung punya posisi hukum yang jelas. Pengembangan, agar budaya Betawi tidak berhenti di museum, tapi terus menafsir zaman dari pantun lisan ke konten digital, dari silat halaman ke sanggar kreatif.

Pemanfaatan, agar adab Betawi menjadi nilai tambah kota menyelesaikan konflik warga, memperkuat modal sosial, menjadi daya tarik Jakarta yang manusiawi. Dan Pembinaan, agar generasi muda punya guru, ruang, dan anggaran untuk belajar, bukan hanya menonton budayanya di panggung festival setahun sekali.

Dengan empat pilar itu, lembaga adat Betawi bisa menjadi mitra resmi pemerintah, bukan sekadar undangan seremonial. Ia bisa menjaga tanah adat dari alih fungsi, mengelola sanggar dengan sumber dana pasti, dan menjadi kurator dalam setiap pembangunan yang masuk ke kampung.

Peradaban baru dunia akan lahir dari kota-kota yang mampu merawat akarnya sambil menafsir zaman. Dan peradaban baru Betawi akan lahir jika kita berhenti meratapi kampung yang hilang, lalu mulai membangun ruang kreatif, koperasi kampung, sanggar digital, atau sekadar halaman yang hidup kembali.

Karena leluhur kita sudah memberi contoh: peradaban tidak lahir dari kemurnian semata, melainkan dari keberanian menafsir, tidak lahir dari popularitas semu tetapi dari karya yang melegenda, Mereka melakukannya di Sunda Kelapa lebih dari 500 tahun lalu. Tugas kita sekarang melakukannya di Jakarta, dengan alat yang baru, tapi adab yang sama.

Peradaban baru dunia sedang mencari bentuk. Peradaban baru Betawi, jika kita mau, bisa menjadi salah satu jawabannya. Dan jawabannya dimulai dari keberanian melindungi struktur yang menaunginya melalui Peraturan Gubernur tentang Lembaga Adat Masyarakat Betawi.*

Tags: Abu Bakar Maulanakaukus muda betawiLAM BetawiLebaran BetawiMasyarakat betawi

Berita Terkait.

SD Ambruk 2 Tahun Dibiarkan, Sudin Pendidikan Jaksel Berdalih Masalah Birokrasi
Megapolitan

SD Ambruk 2 Tahun Dibiarkan, Sudin Pendidikan Jaksel Berdalih Masalah Birokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 - 23:19
Prajurit TNI Meninggal Ditusuk di Tangerang, 4 Pelaku Diringkus Polisi
Megapolitan

Prajurit TNI Meninggal Ditusuk di Tangerang, 4 Pelaku Diringkus Polisi

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:55
Jakarta Siapkan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun, LRT hingga Pengendalian Banjir Jadi Prioritas
Megapolitan

Jakarta Siapkan Obligasi Daerah Rp3,5 Triliun, LRT hingga Pengendalian Banjir Jadi Prioritas

Selasa, 21 Juli 2026 - 19:31
tramadol
Megapolitan

Isu Pembagian Tramadol Jelang Demo di Jakarta, Polisi Lakukan Pendalaman

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:17
Gempa-Bogor
Megapolitan

Kota Bogor Diguncang Gempa Bumi Siang Ini, Pusat Episenter di Darat

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:23
Cerah
Megapolitan

Cuaca di Jakarta Didominasi Cerah, Kecuali Jaksel Berpotensi Hujan Hari Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:50

BERITA POPULER

  • epi

    Desa Berdaya Energi Berbuah Hasil, Populasi Kambing Perah dan Pendapatan Peternak Meningkat

    3179 shares
    Share 1272 Tweet 795
  • Piala Dunia: Jelang Semifinal Kontra Inggris, Messi Pamitan dari Markas Argentina di Kansas

    12558 shares
    Share 5023 Tweet 3140
  • Spanyol vs Argentina: De la Fuente Tuntut Wasit Pimpin Final dengan Sangat Ketat

    1413 shares
    Share 565 Tweet 353
  • Suzuki Fronx Kuasai 35 Persen Pasar SUV Kompak di Indonesia

    2882 shares
    Share 1153 Tweet 721
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2738 shares
    Share 1095 Tweet 685
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.