INDOPOSCO.ID – Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tak menentu, respons pemerintah yang terkesan kalem justru menuai apresiasi dari analis komunikasi politik Hendri Satrio. Ia melihat langkah pemerintah dalam merilis delapan kebijakan efisiensi dan transformasi budaya kerja nasional per 1 April 2026 sebagai sinyal ketenangan yang penting.
Meski demikian, pria yang akrab disapa Hensa itu mengingatkan bahwa sikap tenang tidak boleh berhenti sebagai tampilan komunikasi semata. Ia menekankan perlunya kebijakan yang tidak hanya rapi di permukaan, tetapi juga matang secara perhitungan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Apresiasi dengan ketenangan pemerintah dalam menyampaikan kebijakan di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu ini,” ujar Hensa melalui gawai, Jumat (3/4/2026).
“Tapi yang diharapkan ini adalah sebuah ketenangan yang dibarengi dengan kebijakan yang strategis, yang di mana hitung-hitungannya itu tepat dan sustain, sehingga memang dalam jangka waktu lama, kita bisa bertahan dengan fundamental ekonomi yang baik dan masyarakat tetap sejahtera,” lanjutnya.
Lebih jauh, Hensa menyoroti agar langkah komunikasi pemerintah tidak berhenti pada efek menenangkan publik sesaat. Ia mengingatkan bahwa publik membutuhkan lebih dari sekadar rasa aman jangka pendek—yakni kepastian arah kebijakan yang konsisten.
Menurutnya, keberlanjutan kebijakan menjadi kunci utama agar masyarakat tidak hanya merasa tenang, tetapi juga benar-benar merasakan hasil nyata dari kebijakan tersebut.
“Jangan sampai kemudian press conference kemarin itu hanya sebatas menenangkan dalam jangka waktu tertentu, jadinya kan nggak sustain karena kita semua mengharapkan pemerintah setelah press conference kemarin itu membuat kebijakan-kebijakan yang ujungnya adalah kebijakan yang sustain dengan hitungan-hitungan tepat dan tidak bersifat sementara,” terangnya.
Di sisi lain, Hensa juga menyinggung pentingnya strategi komunikasi pemerintah dalam membangun kesadaran publik. Ia menilai bahwa menyampaikan pesan kewaspadaan bukanlah hal yang harus dihindari.
Baginya, masyarakat justru perlu sesekali diingatkan agar tetap siaga menghadapi kemungkinan perubahan besar yang datang tiba-tiba.
“Sebenarnya tidak apa-apa membuat masyarakat waspada dengan gaya komunikasi tertentu, pesan waspada itu nggak akan bikin panik. Tapi jangan meninabobokan masyarakat,” jelas founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
“Kenapa? Pada saat nanti masyarakat ketiduran, lengah, kemudian terjadi perubahan geopolitik yang cukup dahsyat, justru masyarakatnya kaget dan gelagapan seperti tahun 1998, kasihan yang tidak siap,” tambahnya.
Sebagai informasi, pemerintah sebelumnya telah merilis delapan kebijakan strategis sebagai respons atas situasi global. Di antaranya adalah penerapan kerja dari rumah (WFH) bagi ASN setiap hari Jumat, pengurangan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, serta pemangkasan perjalanan dinas baik dalam negeri maupun luar negeri.
Selain itu, ada penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada makanan segar lima hari dalam sepekan, keberlanjutan pembelajaran tatap muka di sekolah, refocusing anggaran non-prioritas yang berpotensi menghemat Rp130,2 triliun, serta langkah di sektor energi melalui efisiensi nasional dan percepatan implementasi biodiesel B50. (her)










