INDOPOSCO.ID – Pembangunan kependudukan tidak hanya berbicara mengenai jumlah penduduk, tetapi juga kualitasnya. Untuk itu, pemerintah ingin memastikan agar setiap keluarga mampu membentuk anggotanya menjadi insan yang sehat, terdidik, terampil, dan sejahtera.
“Oleh karenanya pembangunan keluarga merupakan salah satu kebijakan kunci dalam upaya kapitalisasi bonus demografi secara optimal,” ujar Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, Ph.D. di Jakarta, Rabu (2/4/2026).
Data Kemendukbangga/BKKBN mencatat terdapat lebih dari 74 juta keluarga di Indonesia, dengan 3,7 juta keluarga memiliki anak usia 0–23 bulan, sekitar 10,1 juta keluarga memiliki anak usia 24–59 bulan, serta lebih dari 25 juta keluarga memiliki anggota lanjut usia. Selain itu, sekitar 14,5 juta keluarga dipimpin oleh kepala keluarga perempuan. Gambaran tersebut menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan keluarga yang komprehensif sepanjang siklus kehidupan sebagai bagian dari strategi penguatan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan keluarga.
Selanjutnya Sesmendukbangga mengutarakan urgensi kebijakan terintegrasi dalam tata kelola kependudukan untuk memastikan bahwa dinamika jumlah, struktur, dan persebaran penduduk dapat dikelola secara optimal. Tanpa integrasi lintas sektor—seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan perencanaan wilayah—kebijakan cenderung berjalan parsial dan tidak mampu menjawab kompleksitas persoalan demografi yang terus berkembang.
Bonus demografi, yang ditandai oleh meningkatnya proporsi penduduk usia produktif, hanya akan menjadi peluang jika didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai. Hal ini menuntut sinkronisasi kebijakan antara peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan yang berkualitas, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan. Tanpa koordinasi yang baik, potensi ini justru dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.
Integrasi kebijakan juga penting dalam memastikan pemerataan pembangunan antarwilayah. Ketimpangan akses terhadap layanan dasar dan kesempatan ekonomi dapat menghambat optimalisasi bonus demografi.
Oleh karena itu, tata kelola kependudukan harus berbasis data yang akurat dan terbarukan, sehingga intervensi kebijakan dapat tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan kapitalisasi bonus demografi sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam membangun sinergi kebijakan yang berkelanjutan.
“Pendekatan terintegrasi tidak hanya meningkatkan efisiensi program, tetapi juga memperkuat daya saing bangsa dalam jangka panjang, menjadikan bonus demografi sebagai motor penggerak pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.” ujar Budi.
Dalam kunjungan perdananya ke Radio Elshinta ini Prof. Budi menyampaikan bahwa Kemendukbangga/BKKBN mendapat amanah untuk bertransformasi dalam pengelolaan kependudukan, termasuk penguatan pembangunan keluarga sebagai fondasi pembangunan nasional. Transformasi ini menekankan pentingnya pencapaian target pembangunan yang terukur guna menyiapkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. Penyampaian informasi yang berkelanjutan terkait transformasi ini melalui media diharapkan mampu memperkuat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pembangunan keluarga berkualitas. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memulai kolaborasi strategis bersama Radio Elshinta melalui kunjungan perdana ini. Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam memperkuat komunikasi publik terkait transformasi pembangunan kependudukan menuju Indonesia Emas 2045 serta mendukung kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi. Kolaborasi ini direncanakan diwujudkan melalui program siaran tematik, dialog interaktif, serta penyebarluasan edukasi kependudukan yang menjangkau keluarga dan komunitas secara luas.
Pemimpin Redaksi Radio Elshinta, Haryo Ristamaji, menyambut positif rencana kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi media dalam memperluas penyebarluasan informasi pembangunan. Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital turut memperluas jangkauan siaran radio melalui layanan live streaming berbasis internet, dengan keterlibatan pendengar yang terus menunjukkan tren peningkatan. Peran media radio yang adaptif terhadap perkembangan digital diharapkan mampu menjangkau berbagai kelompok sasaran secara lebih efektif.
Melalui sinergi ini, Kemendukbangga/BKKBN berharap Radio Elshinta dapat menjadi mitra strategis dalam menyosialisasikan program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), memperluas jangkauan informasi publik, serta mendorong partisipasi masyarakat. Kolaborasi komunikasi publik ini diharapkan berkontribusi pada penguatan stabilitas dan ketahanan demografi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta optimalisasi bonus demografi sebagai modal pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Sinergi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran komunikasi publik dalam mendukung agenda pembangunan nasional berbasis keluarga. (ney)










