INDOPOSCO.ID – Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dinilai masih sulit tercapai jika hanya mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan satu juta rumah.
Pernyataan tersebut diungkapkan Koordinator Bidang Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar melalui gawai, Kamis (26/3/2026).
Ia menyebut, pemerintah memproyeksikan MBG mampu menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja, baik langsung maupun di rantai pasok. Sementara program satu juta rumah disebut dapat membuka hingga 5 juta lapangan kerja.
Data per 20 Januari 2026 menunjukkan lebih dari 21 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi dengan dukungan lebih dari 73 ribu tenaga, serta ratusan ribu relawan. Jumlah itu masih akan bertambah seiring rencana penambahan ribuan SPPG baru.
Namun, capaian pertumbuhan ekonomi 2025 yang berada di kisaran 5,11 persen di bawah target 5,2 persen menjadi catatan tersendiri. Padahal, menurut Timboel, anggaran MBG sudah terealisasi lebih dari Rp51 triliun.
“Di sektor perumahan, realisasi rumah subsidi juga belum memenuhi target,” ungkapnya.
Timboel menilai, lapangan kerja yang tercipta dari kedua program tersebut mayoritas bersifat informal, sehingga belum cukup kuat mendorong daya beli dan konsumsi rumah tangga secara signifikan.
Ia mengingatkan, Indonesia pernah mencatat pertumbuhan di atas 8 persen pada era 1960-an hingga 1990-an, didorong investasi asing, ekspor komoditas, deregulasi, serta penguatan industri manufaktur. Kondisi saat ini berbeda karena sektor padat karya justru melemah dan investasi dinilai belum optimal.
“Pemerintah harus lebih fokus memperbaiki iklim investasi, menjaga pasokan energi industri, serta mendorong penciptaan lapangan kerja formal. Agar pertumbuhan ekonomi bisa menembus di atas 5 persen dan bergerak menuju 6 persen,” ujarnya.
“Target 8 persen disebut masih sangat menantang jika tanpa penggerak ekonomi yang lebih kuat,” imbuhnya. (nas)










