INDOPOSCO.ID – Upaya menjaga ketahanan energi nasional tak lagi sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menuntut inovasi teknologi, efisiensi biaya, dan pengelolaan lapangan migas yang berkelanjutan. Hal itu tercermin dari empat proyek strategis Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 yang meraih apresiasi pada Rapat Kerja Manajemen Proyek (RKMP) 2026.
Penghargaan diberikan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada ajang yang digelar 6 Februari 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, sebagai bentuk pengakuan atas kinerja proyek hulu migas terbaik dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di seluruh Indonesia.
Keempat proyek tersebut menunjukkan strategi terintegrasi PHR mulai dari peningkatan perolehan minyak, stabilisasi produksi, efisiensi kegiatan pascaoperasi, hingga percepatan produksi lapangan baru. Kombinasi ini dinilai krusial untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah tantangan penurunan alami reservoir tua.
Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas A menjadi sorotan utama setelah meraih penghargaan kategori Onstream Ahead of POD. Program ini merupakan injeksi Alkali-Surfaktan-Polymer (ASP) komersial pertama di Indonesia.
Selain berhasil mengaktifkan kembali fasilitas yang sempat berhenti beroperasi hampir satu dekade, proyek ini diproyeksikan meningkatkan recovery factor sebesar 13-17 persen. Dampaknya, umur operasi lapangan-lapangan utama seperti Minas, Bekasap, Balam, dan Bangko berpotensi diperpanjang secara signifikan.
PHR juga menyiapkan pengembangan lanjutan CEOR untuk mendorong optimalisasi produksi di seluruh Zona Rokan.
Tak hanya teknologi, strategi pemboran agresif juga menjadi kunci. Program Well Connection PHR meraih penghargaan Best of Project Planning & Coordinating Performance setelah realisasi 605 sumur sepanjang 2025 melampaui target 555 sumur.
Keberhasilan ini didukung penjadwalan dinamis, koordinasi lintas fungsi, serta efisiensi desain dan konstruksi yang memangkas waktu penyelesaian proyek dari lebih dari 30 hari menjadi hanya 2-3 hari.
Program pemboran dan workover masif tersebut berperan penting menahan laju penurunan produksi alami pada lapangan-lapangan mature.
Di sisi lain, proyek Abandonment and Site Restoration (ASR) Paket 1 dan 2 membuktikan bahwa penutupan operasi juga dapat dilakukan secara efektif dan hemat biaya. Program ini meraih penghargaan The Most Cost-Efficient ASR.
Melalui pembentukan tim khusus, digitalisasi data, serta dashboard monitoring berbasis analitik, PHR mampu menyelesaikan kewajiban pasca operasi sesuai regulasi sekaligus menjaga efisiensi.
Keberhasilan ini memperkuat reputasi tata kelola perusahaan sekaligus meningkatkan keekonomian pengembangan lapangan ke depan, terutama untuk proyek marginal.
Sementara itu, proyek Put on Production and Exploration (PoPE) Padang Pancuran di Wilayah Kerja Jambi Merang meraih penghargaan Onstream R2P Optimized. Proyek ini berhasil berproduksi lebih cepat dari rencana, dengan target awal 67 barel minyak per hari dan proyeksi puncak 379 BOPD pada 2026.
Percepatan dicapai melalui strategi pengadaan dini, pemanfaatan fasilitas eksisting, serta koordinasi intensif di tengah berbagai tantangan teknis dan perizinan.
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, mengatakan penghargaan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi nasional melalui inovasi dan tata kelola yang kuat.
Menurutnya, seluruh proyek tersebut saling melengkapi dari peningkatan perolehan minyak, stabilisasi produksi, efisiensi biaya, hingga percepatan lapangan baru dalam satu tujuan besar: memastikan energi tetap tersedia bagi Indonesia.
Dengan capaian ini, PHR menegaskan posisinya sebagai salah satu tulang punggung produksi migas nasional yang tidak hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga keberlanjutan dan efisiensi jangka panjang. (srv)










