INDOPOSCO.ID – ENTREV, program kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP), mengapresiasi meningkatnya sentimen positif masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Hal ini tercermin dalam studi Drivers of Change yang dilakukan oleh Inchcape di kawasan Asia-Pasifik, yang menunjukkan bahwa 88 persen responden di Indonesia memandang kendaraan elektrifikasi secara positif melampaui rata-rata negara lain di kawasan. Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat mulai melihat kendaraan listrik sebagai bagian dari masa depan mobilitas yang lebih ramah lingkungan.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Evaluasi dan Penyempurnaan Aspek Keselamatan Infrastruktur KBLBB di Indonesia.” yang diselenggarakan pada 12 Maret 2026 oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan melalui Proyek Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV). Dalam FGD ini, Direktur Teknik dan Lingkungan, Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Eri Nurcahyanto menyampaikan pentingnya kegiatan ini dengan menjadikan ruang diskusi bagi para pemangku kepentingan untuk membahas Identifikasi isu dan tantangan terkait standar teknis dan keselamatan ketenagalistrikan (K2) untuk sistem pengisian daya dan instalasi pendukung, sehingga dapat menjadi masukan terhadap pembaharuan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 tahun 2023 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai sekaligus mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Dalam FGD juga disampaikan adanya kenyataan di lapangan bahwa optimisme publik terhadap kendaraan listrik terus tumbuh seiring semakin beragamnya pilihan kendaraan ramah lingkungan yang tersedia di pasar. Selain mobil listrik berbasis baterai, kendaraan hybrid dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) juga semakin dikenal oleh masyarakat sebagai alternatif yang menjembatani kebutuhan efisiensi sekaligus keberlanjutan.
Dalam keterangan terpisah, Bagus Susanto Interim Managing Director Inchcape Indonesia, menyampaikan bahwa tren ini menunjukkan arah perubahan yang semakin jelas dalam preferensi konsumen.
“Tingkat sentimen positif sebesar 88 persen mencerminkan kepercayaan publik terhadap arah elektrifikasi. Ini menjadi indikasi bahwa masyarakat mulai melihat kendaraan elektrifikasi sebagai solusi mobilitas masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Bagus Susanto.
Meski demikian, studi tersebut juga mencatat bahwa sejumlah faktor masih menjadi pertimbangan utama bagi konsumen sebelum memutuskan untuk membeli kendaraan listrik. Faktor harga menjadi pertimbangan bagi sekitar 58 persen responden, diikuti oleh daya tahan baterai sebesar 40 persen, serta ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang disebut oleh 34 persen responden. Data ini menunjukkan bahwa minat terhadap kendaraan listrik terus tumbuh secara bertahap, sejalan dengan perkembangan ekosistem pendukungnya.
Menanggapi hal tersebut, Nasrullah Salim, ENTREV National Project Manager, menilai bahwa meningkatnya persepsi positif masyarakat merupakan modal sosial yang penting untuk mendorong percepatan transformasi sektor transportasi di Indonesia.
Beliau menambahkan, dalam fase transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan, pendekatan yang adaptif dan inklusif menjadi kunci dan aspek keselamatan ketenagalistrikan (K2) harus dijadikan standar utama dalam penyediaan infrastruktur pengisian listrik.
Oleh karena itu, ENTREV mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia untuk memenuhi standar teknis dan keselamatan ketenagalistrikan. Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap elektrifikasi, dan menjadikan Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mempercepat transisi menuju sistem transportasi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan di masa depan. (her)










