• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

221 Peristiwa Pelanggaran KBB Sepanjang 2025, SETARA Soroti Regulasi Diskriminatif

Nelly Marinda Situmorang Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 10 Maret 2026 - 23:09
in Megapolitan
kbb

(kiri ke kanan): Harkirtan Kaur, Halili Hasan, dan Ikhsan Yosarie yang merupakan perwakilan dari SETARA Institute memaparkan laporan kondisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) 2025 di Jakarta, Selasa (10/3/2026). Laporan mencatat 221 peristiwa pelanggaran sepanjang tahun lalu/istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia sepanjang 2025 dinilai masih menghadapi persoalan serius. Laporan terbaru SETARA Institute menunjukkan belum adanya perbaikan signifikan meski jumlah kasus sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.

Temuan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan dalam pemaparan laporan bertajuk “Reorientasi Kebijakan dan Tindakan Negara” yang digelar di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

BacaJuga:

Renovasi SD Ambruk Dimulai, Gubernur Pramono Diminta Evaluasi Kadis Pendidikan Nahdiana yang Bikin Malu

Modernisasi Pemantauan Lalu Lintas, Korlantas Optimalisasi Aplikasi Turjawali

Merawat Jakarta Tak Bisa Sendiri, Kesbangpol DKI Ajak Ormas Perkuat Sinergi

Ia mengatakan berbagai bentuk pelanggaran yang muncul pada 2025 masih menunjukkan pola yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Hal ini menjadi bukti bahwa negara belum berkomitmen untuk menjaga stabilitas nasional melalui pemeliharaan toleransi antar umat beragama,” kata Halili.

Sepanjang 2025, SETARA Institute mencatat 221 peristiwa pelanggaran dengan 331 tindakan. Angka ini memang lebih rendah dibanding 2024 yang mencatat 260 peristiwa dengan 402 tindakan, namun penurunan tersebut belum menunjukkan kemajuan perlindungan yang berarti.

Dari total pelanggaran tersebut, 128 tindakan dilakukan oleh aktor negara, sementara 197 lainnya dilakukan oleh aktor non-negara.

Menurut Halili, salah satu pemicu tingginya pelanggaran KBB dalam beberapa tahun terakhir adalah keberadaan regulasi yang dianggap diskriminatif terhadap kelompok minoritas.

“Salah satu faktor yang menjadi contextual trigger dari tingginya angka pelanggaran KBB secara konsisten dalam kurun waktu 5 tahun terakhir adalah masih adanya regulasi diskriminatif dan intoleran yang menyasar kelompok minoritas seperti kelompok agama Kristen dan Katolik, serta Jemaat Ahmadiyah,” imbuhnya.

“Regulasi ini terus dilestarikan demi membatasi ruang gerak kelompok minoritas untuk melaksanakan ajaran dan ritus keagamaannya. Regulasi existing juga menjadi alat legitimasi bagi kelompok intoleran untuk melakukan tindakan diskriminasi,” tambahnya.

Peneliti HAM dan Reformasi Sektor Keamanan SETARA Institute, Ikhsan Yosarie, menjelaskan bahwa kondisi KBB sepanjang 2025 memperlihatkan sejumlah persoalan mendasar yang belum tertangani secara komprehensif.

Salah satu sorotan utama adalah meningkatnya kontribusi pelanggaran dari aktor non-negara. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik intoleransi tidak lagi hanya terjadi di level struktural, tetapi mulai mengalami normalisasi di tengah masyarakat.

Pelanggaran yang dilakukan kelompok non-negara terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari intoleransi hingga tindakan kekerasan.

“Peristiwa pembubaran paksa terhadap retret di Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan penyerangan rumah doa umat Kristen di Padang Sarai, Sumatera Barat menjadi salah satu praktik nyata bentuk intoleransi yang telah diinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Ikhsan.

Sorotan berikutnya adalah pelanggengan diskriminasi terhadap Jemaat Muslim Ahmadiyah. Pada 2025, kasus terhadap kelompok ini meningkat dari 8 kasus pada 2024 menjadi 12 kasus. Sebagian besar berkaitan dengan penyelenggaraan Jalsah Salanah di sejumlah daerah serta pembatalan kegiatan diskusi mengenai Ahmadiyah.

“Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa restriksi dan diskriminasi terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengalami perulangan dan tersebar di berbagai wilayah,” jelasnya.

Sementara itu, persoalan lain yang masih menonjol adalah lemahnya komitmen penyelesaian kasus pelanggaran yang menimpa umat Kristiani. Meski jumlah kasus menurun, kelompok ini masih menjadi korban terbanyak sepanjang tahun lalu.

“Angka pelanggaran masih menunjukkan jumlah yang memprihatinkan, dimana ini memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi umat Kristen dan Katolik bukan sekedar bersifat insidental, melainkan persoalan yang bersifat struktural,” ungkap Ikhsan.

“Penurunan kasus secara kuantitatif tidak semata-mata mencerminkan adanya perbaikan kualitas perlindungan, melainkan konsistensi posisi korban yang harus dijadikan perhatian untuk dapat melihat akar persoalan, yakni kerapuhan sistemik yang belum terselesaikan,” sambungnya.

Peneliti KBB SETARA Institute, Harkirtan Kaur, menambahkan bahwa sepanjang 2025 tercatat 239 korban pelanggaran KBB di Indonesia.

Kelompok umat Kristen dan Katolik menjadi korban terbanyak dengan 61 orang, diikuti warga masyarakat (41 korban), individu (34 korban), serta pelaku usaha (32 korban).

“Sementara itu, umat Islam tercatat 15 korban, Ahmadiyah 12 korban, serta tokoh agama 10 korban,” urainya.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan bahwa dampak pelanggaran kebebasan beragama tidak hanya dirasakan kelompok agama tertentu, tetapi juga merembet ke masyarakat luas hingga sektor ekonomi.

“Dengan demikian, spektrum pelanggaran KBB sudah tidak lagi menyentuh pada sektor-sektor privat, tetapi secara lebih jauh telah menyentuh ranah sosial dan ekonomi,” tambahnya.

Melihat kondisi tersebut, SETARA Institute mendorong pemerintah mengambil langkah serius untuk memperkuat perlindungan kebebasan beragama.

Presiden dinilai perlu menunjukkan kepemimpinan tegas dalam menjamin hak kebebasan beragama seluruh warga negara sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, pemerintah juga diminta mempercepat penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama (PKUB) sebagai pengganti PBM 2006 dengan memastikan regulasi baru tersebut memperkuat perlindungan hak, bukan mempertahankan mekanisme veto sosial terhadap kelompok minoritas.

SETARA juga mendorong pemerintah melakukan peninjauan kembali serta penghapusan berbagai regulasi di tingkat pusat maupun daerah yang bersifat diskriminatif terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.

Di sisi lain, Kementerian Agama diharapkan memperkuat sistem deteksi dini dan langkah preventif terhadap potensi kekerasan berbasis agama, terutama di lingkungan pendidikan.

Penegakan hukum yang konsisten terhadap pelaku kekerasan berbasis agama juga menjadi perhatian penting. Aparat penegak hukum diminta bertindak tegas tanpa selektivitas. Selain itu, pemerintah perlu memastikan ruang akademik tetap terlindungi dari pembungkaman atau pembatalan kegiatan ilmiah yang didorong tekanan kelompok tertentu.

Di tingkat legislasi, DPR dan DPRD juga diharapkan mendorong harmonisasi regulasi agar setiap peraturan perundang-undangan selaras dengan prinsip non-diskriminasi dan perlindungan hak kebebasan beragama. (her)

Tags: KBBkebebasan beragama dan berkeyakinanPelanggaran KBBRegulasi DiskriminatifSETARA

Berita Terkait.

sd
Megapolitan

Renovasi SD Ambruk Dimulai, Gubernur Pramono Diminta Evaluasi Kadis Pendidikan Nahdiana yang Bikin Malu

Kamis, 3 September 2026 - 18:18
Modernisasi Pemantauan Lalu Lintas, Korlantas Optimalisasi Aplikasi Turjawali
Megapolitan

Modernisasi Pemantauan Lalu Lintas, Korlantas Optimalisasi Aplikasi Turjawali

Kamis, 3 September 2026 - 12:30
Surplus Dagang Juli Cuma USD 0,12 Miliar, Ekspor Tetap Ngebut
Megapolitan

Merawat Jakarta Tak Bisa Sendiri, Kesbangpol DKI Ajak Ormas Perkuat Sinergi

Kamis, 3 September 2026 - 12:20
Cuaca di Jakarta Cerah Merata, dengan Tingkat Kelembapan Berkisar 38 hingga 76 Persen 
Megapolitan

Cuaca di Jakarta Cerah Merata, dengan Tingkat Kelembapan Berkisar 38 hingga 76 Persen 

Kamis, 3 September 2026 - 07:27
karung
Megapolitan

Hadapi Puncak Kemarau, Jakarta Siagakan Ribuan Personel dan Puluhan Mobil Tangki

Rabu, 2 September 2026 - 13:43
demo
Megapolitan

Polda Metro Didesak Tangkap Pelaku Pengeroyokan Demo Ricuh Pejompongan

Rabu, 2 September 2026 - 13:03

OLAHRAGA

Hadapi Laos, Nova Arianto Putar Otak Tentukan Pemain Garuda Muda
Olahraga

Hadapi Laos, Nova Arianto Putar Otak Tentukan Pemain Garuda Muda

Editor Nelly Marinda Situmorang
Kamis, 3 September 2026 - 09:12

INDOPOSCO.ID - Pelatih Timnas Indonesia U-20 Nova Arianto mempertimbangkan komposisi pemain yang akan diturunkan menghadapi Laos U-20 dalam laga kedua...

SelengkapnyaDetails
nova

Tumpul Lawan Malaysia, Garuda Muda Pertajam Penyelesaian Akhir demi Tumbangkan Laos

Rabu, 2 September 2026 - 15:05
ferry

Izin Prinsip Sudah Terbit, League Persija Versus Persib Fix di GBK

Rabu, 2 September 2026 - 13:13
SUPER

Super League 2026 Resmi Bergulir, STY vs Igor Tolic Panaskan Rivalitas Persija-Persib

Rabu, 2 September 2026 - 08:10
league

Alasan “Indonesia Menyala” Gantikan “Gaskeun” sebagai Theme Song Super League 2026/2027

Rabu, 2 September 2026 - 04:04

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.