INDOPOSCO.ID – Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengajak negara-negara yang masuk dalam kategori “selatan global” (global south) untuk menjaga semangat multilateralisme.
“Multilateralisme adalah ‘jimat pelindung’ bagi negara-negara ‘selatan global’. Kita harus mendorong masyarakat internasional mempraktikkan multilateralisme yang sejati, menjaga sistem internasional yang berpusat pada PBB dan tatanan internasional yang didasarkan pada hukum internasional,” Menlu Wang Yi menjawab dalam konferensi pers soal “Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China” di Beijing, China pada Minggu (8/3/2026).
Menurut Wang Yi, dalam sistem multilateralisme, negara-negara berpegang pada prinsip bahwa urusan dunia dibahas oleh semua negara, dan aturan internasional ditetapkan bersama oleh semua negara.
“Global South adalah kekuatan yang baru muncul, positif, dan berpihak pada kebaikan di panggung internasional. Semakin dunia dipenuhi gejolak dan kekacauan, semakin kita harus meneguhkan kepercayaan diri, bersatu dan bekerja sama, bersama-sama mengangkat semangat perdamaian dan pembangunan sekaligus kerja sama yang saling menguntungkan,” tambah Wang Yi.
Kerja sama selatan global tersebut menurut Wang Yi dapat terwujud melalui BRICS, Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), serta Kelompok 77 untuk menyuarakan perdamaian dan memberi dorongan bagi pembangunan.
“Kebangkitan kolektif ‘global south’ adalah penanda yang menonjol dari perubahan besar dunia. Dalam 40 tahun terakhir, proporsi total ekonomi Global South terhadap dunia telah meningkat dari 24 persen menjadi lebih dari 40 persen, dan menjadi kekuatan utama yang mendorong proses multipolarisasi dunia,” tambah Wang Yi.
Saat ini, kata Wang Yi, hegemoni dan politik kekuasaan merajalela sehingga memberikan guncangan serius terhadap tatanan internasional yang ada.
Perekonomian dunia pun sedang menghadapi gejolak, dan globalisasi mengalami arus balik karena sejumlah negara secara besar-besaran membangun hambatan tarif serta memutus keterhubungan rantai pasok dan rantai industri sehingga sama saja dengan menambah kayu bakar ke dalam api dan pada akhirnya akan berbalik merugikan diri sendiri.
“Kelompok ‘global south’ seharusnya memperkuat komunikasi dan koordinasi, bersama-sama menjaga hak dan kepentingan sahnya sendiri, serta bersama-sama membuka ruang bagi pembangunan yang mandiri,” ungkap Wang Yi.
Pembangunan negara-negara “global south”, menurut Wang Yi, memerlukan lingkungan internasional yang terbuka dan kooperatif.
“Kita harus mendorong globalisasi ekonomi yang inklusif dan bermanfaat bagi semua, menjaga perekonomian dunia yang terbuka, dengan tegas menjaga sistem perdagangan multilateral, serta berbagi peluang dan mewujudkan hasil yang saling menguntungkan dalam keterbukaan,” tambah Wang Yi.
China, ungkap Wang Yi, akan dengan teguh mendukung liberalisasi dan memfasilitasi perdagangan serta investasi, dan teguh menjaga stabilitas dan kelancaran rantai industri serta rantai pasokan global.
“China akan memperluas keterbukaan tingkat tinggi ke luar negeri, tidak hanya memikul tanggung jawab sebagai ‘pabrik dunia’ tapi juga harus memainkan peran sebagai ‘pasar dunia’,” tegas Wang Yi.
“Global south” atau selatan global adalah istilah pengelompokan negara berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi dan politik. Menurut Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), “global south” secara luas meliputi Afrika, Amerika Latin dan Karibia, Asia (tidak termasuk Israel, Jepang, dan Korea Selatan), dan Oseania (tidak termasuk Australia dan Selandia Baru).
Sebagian besar negara-negara “global south” umumnya diidentifikasi sebagai negara yang pendapatan yang rendah, tingkat kemiskinan yang tinggi, pertumbuhan populasi yang tinggi, perumahan yang tidak memadai, kesempatan pendidikan terbatas, sistem kesehatan yang kurang baik dan berbagai masalah lainnya. “Global south” juga kerap diidentifikasi sebagai negara “dunia ketiga” maupun negara-negara industri baru.
Kondisi itu berlawanan dengan “global north” yang digambarkan UNCTAD secara luas meliputi Amerika Utara dan Eropa, Israel, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Meski begitu, kedua kelompok tersebut tidak sesuai dengan belahan bumi utara dan selatan, karena banyak negara “global south” secara geografis terletak di utara dan sebaliknya.
Istilah “global south” muncul pada paruh kedua abad ke-20 untuk merangkum kritik terhadap ketidaksetaraan global dan ketidakseimbangan kekuatan, dengan menyoroti eksploitasi kolonial dan perjuangan dalam otonomi ekonomi dan politik. (ney)




















