INDOPOSCO.ID – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menekankan bahwa intervensi pada kelompok 3B adalah pilar utama dalam memastikan ketahanan keluarga Indonesia. Hal itu ditegaskan Menteri Wihaji saat meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sindangjaya pada Rabu (4/3/2026).
“Program Makan Bergizi Gratis khususnya untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD satu-satunya di dunia jadi bentuk kehadiran negara dalam meringankan beban pengasuhan keluarga,” tegasnya.
Hingga kini, sebanyak 70% lebih SPPG di wilayah Cianjur telah mendistribusikan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sasaran utama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B), salah satunya SPPG Sindangjaya. Di bulan Ramadan, operasional SPPG Sindangjaya tetap berjalan produktif untuk memastikan pemenuhan gizi kelompok rentan tetap terpenuhi.
Ia juga menegaskan agar seluruh produk pendukung gizi sedapat mungkin diproduksi oleh UMKM lokal sebagai langkah konkret pemberdayaan masyarakat. Di SPPG Sindangjaya, komitmen ini diwujudkan melalui integrasi penyediaan bahan baku yang melibatkan 18 UMKM serta kelompok Dasawarsa Keluarga Mandiri Pangan guna memperkuat ekonomi keluarga di sekitar wilayah layanan.
Terkait keberlanjutan asupan, Menteri Wihaji menyoroti pentingnya variasi menu agar penerima manfaat tidak mengalami kejenuhan konsumsi yang dapat menurunkan nafsu makan. Ia menilai kreativitas dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi kunci untuk menjaga minat makan anak sekaligus memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi.
Menurutnya, pengalaman modifikasi menu berkala di Jepang dapat dijadikan contoh. “Setahun saja kalau tidak ada modifikasi, anak-anak bisa bosan. Kita harus mampu mengolah pangan lokal secara kreatif agar anak-anak senang makan, namun kandungan gizinya tetap terjaga secara optimal,” jelasnya
SPPG Sindangjaya melayani dua wilayah, yakni Desa Sindangjaya dan Desa Cipanas, dengan cakupan 12 satuan pendidikan dan 2 titik untuk MBG 3B. Secara keseluruhan, layanan MBG di SPPG Sindangjaya telah menjangkau 2.860 penerima manfaat. “Penerima manfaat di sini terdiri dari anak sekolah dan kelompok 3B. Untuk kelompok 3B ada sekitar 200-an penerima,” ujar Anggi Awaludin, Kepala SPPG Sindangjaya.
Aspek keamanan pangan juga menjadi prioritas mutlak di SPPG dengan penerapan sistem penyimpanan First In First Out (FIFO) dan prosedur pembersihan bahan yang ketat untuk mencegah kontaminasi silang. Seluruh operasional logistik, mulai dari distribusi makanan siap saji di pagi hari hingga pengadaan bahan baku segar di malam hari, dirancang secara terintegrasi guna menjamin kualitas makanan terbaik yang dikonsumsi oleh ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Melalui integrasi program MBG yang fokus pada sasaran 3B ini, Kemendukbangga/BKKBN optimistis ketahanan keluarga Indonesia akan semakin kokoh. Sinergi antara pemenuhan gizi yang tepat dan pendampingan keluarga yang intensif diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam melahirkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (ney)




















