• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Pemulihan IHSG Pasca Kasus “Saham Gorengan”: Analisis Legitimasi dan Corporate Apologia atas Peran BEI

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 22 Februari 2026 - 20:24
in Ekonomi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Juni Armanto, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

INDOPOSCO.ID – Pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah merebaknya kasus saham gorengan perlu dipahami dalam perspektif yang lebih komprehensif daripada sekadar fenomena rebound pasar. IHSG sebagai indikator agregat kinerja saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) merefleksikan bukan hanya dinamika harga, tetapi juga tingkat keyakinan investor terhadap kredibilitas sistem perdagangan efek.

BacaJuga:

Pertamina Drilling Unjuk Gigi di Asia, Teknologi ERRA Jadi Sorotan Dunia

Respons Gejolak Geopolitik, Komisi XI: Revisi UU P2SK Kunci Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Stabilitas Ekonomi

Harga Avtur Melonjak hingga 80 Persen, DPR Minta Pemerintah Cegah Tiket Pesawat Ikut Terbang Tinggi

Ketika praktik manipulasi harga baik melalui skema penggelembungan nilai saham, transaksi semu, maupun rekayasa sentiment terungkap, dampaknya melampaui kerugian finansial individual dan menjalar pada persepsi sistemik tentang integritas pasar. Dalam situasi demikian, tekanan terhadap IHSG merepresentasikan erosi kepercayaan yang bersifat kolektif.

Dalam kajian komunikasi krisis, pendekatan Corporate Apologia yang dikembangkan oleh Keith M. Hearit dalam The Handbook of Crisis Communication suntingan W. Timothy Coombs dan Sherry J. Holladay (2023) menawarkan kerangka analitis yang relevan untuk membaca situasi ini sebagai krisis legitimasi. Hearit memandang krisis bukan sekadar gangguan operasional, melainkan kondisi ketika terjadi ketidaksesuaian antara nilai normatif yang diklaim organisasi dengan realitas yang dipersepsikan publik.

Pasar modal secara ideal dibangun atas asas transparansi, keadilan, akuntabilitas, dan perlindungan investor. Ketika saham gorengan muncul berulang dan menimbulkan korban di kalangan investor ritel, publik dapat menilai bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak sepenuhnya terjaga dalam praktik.

Dalam kerangka Social Legitimation Crisis, penurunan IHSG dapat dimaknai sebagai manifestasi ketidakpercayaan terhadap kemampuan institusi menjaga keselarasan antara nilai dan tindakan. Walaupun manipulasi dilakukan oleh pelaku tertentu, opini publik kerap mengaitkannya dengan efektivitas pengawasan bursa. Oleh karena itu, pemulihan indeks tidak cukup dilakukan melalui mekanisme pasar alami atau sentimen eksternal yang membaik, melainkan harus disertai rekonstruksi legitimasi institusional.

Di titik inilah peran BEI menjadi sentral, tidak hanya sebagai penyelenggara teknis perdagangan, tetapi juga sebagai subjek komunikasi krisis yang harus menjawab berbagai tudingan secara argumentatif.

Konsep apologia dalam pemikiran Hearit menekankan bahwa respons organisasi terhadap tuduhan (kategoria) harus dirancang untuk memulihkan kesesuaian nilai. Dalam konteks saham gorengan, kategoria biasanya berbentuk tuduhan manipulasi harga serta dugaan lemahnya sistem pengawasan.

Respons yang efektif menuntut lebih dari sekadar klarifikasi formal; diperlukan penegasan komitmen moral dan langkah korektif yang nyata. Kejujuran dalam membuka informasi, tanggung jawab dalam mengevaluasi kelemahan sistem, serta konsistensi dalam penegakan sanksi menjadi elemen kunci untuk membangun kembali kepercayaan.

Krisis ini juga dapat dipahami sebagai Actional Legitimation Crisis, yakni krisis yang tidak mengancam keberlangsungan lembaga secara langsung, tetapi berpotensi menghambat pencapaian tujuan utamanya. Bagi BEI, tujuan tersebut adalah memastikan terselenggaranya pasar yang teratur, wajar, dan efisien.

Apabila investor ritel kehilangan keyakinan dan menarik partisipasinya, maka fungsi intermediasi dan pembentukan harga yang sehat akan terganggu. Dalam kondisi demikian, pemulihan IHSG menjadi indikator penting bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi legitimasi sosial.

Pemulihan yang berkelanjutan menuntut integrasi antara pembenahan struktural dan komunikasi publik yang kredibel. Penguatan sistem pemantauan transaksi, peningkatan transparansi terhadap aktivitas perdagangan tidak wajar, pemanfaatan teknologi analitik untuk deteksi dini, serta edukasi literasi keuangan bagi investor merupakan langkah-langkah substantif yang perlu dijalankan.

Namun, dalam perspektif Corporate Apologia, langkah-langkah tersebut harus dikomunikasikan sebagai bagian dari komitmen nilai, bukan sekadar prosedur teknis. Tanpa narasi yang meyakinkan, reformasi dapat dipersepsikan sebagai respons sementara terhadap tekanan publik.

Dengan demikian, pemulihan IHSG pasca kasus saham gorengan pada hakikatnya adalah proses negosiasi ulang kepercayaan antara institusi pasar dan masyarakat investor. Penguatan indeks yang terjadi setelah periode tekanan hanya akan bermakna apabila diiringi keyakinan bahwa tata kelola telah diperbaiki secara fundamental.

Dalam kerangka teoretis Hearit, legitimasi yang pulih merupakan hasil dari keselarasan kembali antara nilai yang diklaim dan tindakan yang diwujudkan. Oleh sebab itu, tantangan bagi BEI bukan sekadar mengembalikan stabilitas pasar, tetapi memastikan bahwa pasar modal Indonesia dipersepsikan sebagai ruang investasi yang adil, transparan, dan berintegritas dalam jangka panjang. (aro)

Tags: Bursa Efek Indonesiaihsgsaham

Berita Terkait.

Presentasi
Ekonomi

Pertamina Drilling Unjuk Gigi di Asia, Teknologi ERRA Jadi Sorotan Dunia

Minggu, 5 April 2026 - 09:10
andreas
Ekonomi

Respons Gejolak Geopolitik, Komisi XI: Revisi UU P2SK Kunci Perdalam Pasar Keuangan dan Jaga Stabilitas Ekonomi

Minggu, 5 April 2026 - 03:30
avtur
Ekonomi

Harga Avtur Melonjak hingga 80 Persen, DPR Minta Pemerintah Cegah Tiket Pesawat Ikut Terbang Tinggi

Minggu, 5 April 2026 - 01:11
bbg
Ekonomi

Dorong Kemandirian Energi, Komisaris Utama PGN Gunakan Dual Fuel BBM-BBG

Sabtu, 4 April 2026 - 22:02
Rinto-Pudyantoro
Ekonomi

Efek Berganda Hulu Migas: dari Penerimaan Negara hingga Penggerak Ekonomi Daerah

Sabtu, 4 April 2026 - 18:09
Perwira Pertamina
Ekonomi

Pertamina Dorong EBT di Tengah Gejolak Energi Dunia

Sabtu, 4 April 2026 - 02:49

BERITA POPULER

  • darwati

    Warga Aceh Dikeroyok di Polda Metro Jaya, DPD RI: Ini Tamparan Keras bagi Penegakan Hukum

    1092 shares
    Share 437 Tweet 273
  • Kemnaker: Ratusan Aduan Pelanggaran THR, 173 Kasus Sudah Selesai dan 1.400-an Berproses

    913 shares
    Share 365 Tweet 228
  • DPR Minta OJK yang Baru Segera Tangani Kasus Dana Syariah Rp2,47 Triliun

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, BKSAP DPR Dorong Pengadilan Internasional

    700 shares
    Share 280 Tweet 175
  • Arus Balik Lebaran 2026 di Tol Cipali Capai 3.500 Kendaraan per Jam, Jelang Sore Lancar

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.